Abstractive Sense


Pada posting sebelumnya, saya sudah menjelaskan secara garis besar penyelenggaraan turnamen SSB yang diselenggarakan oleh PSB Bonansa UNS. Dimulai pada hari Jumat, tanggal 4 Maret 2011, keramaian Piala Rektor terbagi menjadi dua lokasi, baik Stadion UNS maupun Lapangan Yonif 413. Setelah hari pertama sekedar bercengkerama dengan panpel di Stadion UNS, esoknya saya mendatangi Lapangan Yonif 413. Di lapangan yang berada di dalam kompleks militer tersebut, saya menyaksikan babak penyisihan grup D. Sejak pukul 09.00 WIB hingga tengah hari saya menonton tiga pertandingan.


SSB Jatayu Watukelir (Hitam) vs SSB Zettle Meyer (Biru)
1 - 2

Pada pertandingan ini, kekuatan kedua tim tidak berbeda jauh. SSB Jatayu memakai kostum hitam, sedangkan SSB Zettle Meyer memakai kostum biru. Pertandingan berjalan cukup keras, hingga beberapa kali fisioterapi mendatangi pemain yang cedera. Banyak peluang dihasilkan oleh kedua tim hingga pada babak kedua skor sama kuat 1-1. Pertandingan semakin menarik ketika kedua tim ingin mencuri satu gol tambahan. Puncaknya, Angga, pemain nomor punggung 24 dari SSB Zettle Meyer, mampu mengamankan tiga poin setelah mengobrak-abrik sisi kiri pertahanan Jatayu. SSB Jatayu gagal menyamakan kedudukan hingga peluit berakhir.

Rendy, striker SSB Zettle Meyer yang menderita cedera sempat dibantu bek lawan.

Dari sinilah gol penentuan tercipta.

PS Pemda Surakarta (Merah) vs SSB Harimau Bekonang (Putih)
1 - 1

Sejak wasit meniup peluit, pemain SSB Harimau Bekonang terkesan menguasai pertandingan. Petaka PS Pemda Surakarta terjadi pada menit-menit awal setelah tendangan jarak jauh pemain SSB Harimau tidak bisa dihentikan kiper PS Pemda Surakarta. Pada pertandingan tersebut, PS Pemda Surakarta memang sengaja memasang kiper yang cukup muda. Walaupun SSB Harimau cukup mendominasi, hingga babak pertama berakhir skor tetap 1-0. Pada babak kedua, pelan tapi pasti PS Pemda Surakarta mampu memberi perlawanan yang berarti hingga mencetak gol penyeimbang. Sebuah umpan dari pemain PS Pemda Surakarta mampu diselesaikan dengan sundulan oleh rekannya yang berjibaku dengan kiper lawan.

Sejak awal pertandingan, perhatian saya tertuju pada seorang pemain PS Pemda Surakarta bernama Samir. Cukup menarik, karena sekilas wajahnya mirip dengan pendiri situs social networking Facebook, siapa lagi kalau bukan Mark Zuckerberg. Pada pertandingan tersebut, Samir yang mengisi lapangan tengah sebenarnya memiliki sentuhan yang bagus ketika menerima bola. Namun, karena berkali-kali timnya diserang, pemain ini sering mundur membantu pertahanan.

Para pemain SSB Harimau Bekonang berkumpul sebelum bertanding.
Pemain PS Pemda Surakarta dan SSB Harimau sebelum pertandingan.
Para pemain PS Pemda Surakarta, kipernya berusia cukup muda dibanding rekan yang lain.
Mengirim bola jauh ke depan.
Samir, pemain yang mirip Mark Zuckerberg.
Gol penyeimbang dari PS Pemda Surakarta.
Selebrasi membawa bola pemain PS Pemda Surakarta sekaligus memulai pertandingan kembali.

SSB SSS Semarang (Hitam) vs SSB Jatayu Watukelir (Hijau)
0 - 1
SSB SSS (Sport Supaya Sehat) Semarang dan SSB Jatayu Watukelir bermain cukup atraktif. Namun, jika dibandingkan dengan SSB asal Semarang tersebut, peluang-peluang dari SSB Jatayu lebih berbahaya. Tercatat sebuah sundulan keras dari pemain SSB Jatayu diselamatkan tiang gawang. Sebuah gol semata wayang dari pemain SSB Jatayu membuyarkan semangat para pemain asal Semarang tersebut.

Sebelum pertandingan dimulai, saya sempat bercengkerama dengan seorang ofisial dari SSS. Pak Giyarto pada struktur organisasi memegang posisi kepala bidang yang bertanggung jawab pada pengembangan pemain usia dini. Beliau mengaku sebagai alumni SSB SSS dan pernah menembus tim PSIS junior.

Menurut Pak Giyarto, SSB yang bermarkas di Lapangan Sidodadi Semarang ini merupakan salah satu SSB tertua di Semarang. Berdiri sejak 1928, banyak pemain nasional yang sempat belajar mengolah si kulit bundar di SSB ini. "Nova 'Vava' Arianto, Muhammad Ridwan, Eko Purjianto, mereka itu SSS punya. Kebanyakan tahunya sewaktu pemain tersebut sudah jadi.", tuturnya. Selain ketiga nama besar timnas tersebut, sebenarnya masih banyak pemain lainnya yang berasal dari SSB ini, termasuk sebagian pemain PSIS Semarang.

Ketika saya tanya mengenai penyelenggaraan Liga Primer Indonesia, Beliau tidak terlalu mempermasalahkan. Bahkan, dua dari ofisial SSS sekarang menjabat sebagai manajemen Semarang United.

SSB SSS memiliki memiliki semboyan "Kekeluargaan dan Sosial". Jika ada seorang pemain yang berkualitas berasal dari kalangan kurang mampu, klub tidak segan menggratiskan SPP pemain bersangkutan. Sembari bercerita, Pak Giyarto menunjuk salah seorang pemain yang berada di lapangan. "Pemain itu putra dari tukang becak, di SSS ia tidak perlu membayar SPP", kata Pak Giyarto.


Pak Giyarto mendatangi para pemainnya setelah babak pertama usai.
Gelandang SSB SSS bernomor punggung 11 ini pernah menjadi punggawa Jateng saat Piala Medco.
Kiper SSB Jatayu yang berusaha menangkap bola di hadapan penyerang SSB SSS.
Satu kejadian unik, wasit menghentikan pertandingan untuk sementara waktu ketika terdengar adzan.

Lebih lanjut mengenai berita sepakbola usia dini. Cek ini..



Cek di sini..

Leave a Reply