Abstractive Sense

P4S Zettle Meyer vs Tunas Tirta Kelompok Tahun Kelahiran 2000.

Minggu pagi biasa digunakan SSB P4S Zetlle Meyer untuk mengadakan latihan seperti biasa. Namun, pada Ahad, 20 Februari 2011, SSB yang bermarkas di Lapangan Ngijo dekat PG Tasikmadu ini menghadirkan lawan tanding salah satu SSB dari Solo, yakni SSB Tunas Tirta. Menurut pihak SSB Tunas Tirta, pertandingan persahabatan ini terselenggarakan berkat ajakan dari SSB Zettle Meyer ketika bertemu di sebuah turnamen di Nguter, Sukoharjo. Terdapat tiga pertandingan yang dilakukan dengan sistem dua babak dan melibatkan tiga kelompok tahun kelahiran.

SSB Tunas Tirta biasa berlatih di Lapangan Baturan, yang berlokasikan di Jl. Fajar Indah Raya. SSB yang dilatih oleh Pak Guntoro ini menjadikan hari Senin-Rabu-Jumat sebagai jadwal latihan. Selain itu, seperti layaknya Zettle Meyer, latihan SSB Tunas Tirta juga melibatkan mahasiswa UNS dan alumni SSB ini.

Sejak sekitar pukul 08.00 WIB, pertandingan dimulai dengan mempertemukan skuad kelompok tahun kelahiran 2000 ke atas. SSB Zettle Meyer berkostum oranye, sedangkan SSB Tunas Tirta berkostum hitam. Pada pertandingan ini terlihat pola permainan kedua tim yang cenderung masih mengejar-ngejar bola. Ketika seorang penyerang SSB Tunas Tirta lolos menuju kotak penalti lawan, saat itupula sekitar 6 pemain bertahan mengerubutinya. SSB Tunas Tirta yang hanya mengandalkan lari penyerang tersebut, terlihat kesulitan mencetak peluang. Dua bek SSB Zettle Meyer, Rizki Aulia dan Fajar T.A., pada pertandingan ini bermain tanpa kenal lelah menjaga pertahanan. Alhasil, pada pertandingan pertama ini SSB P4S Zettle Meyer menang dengan dua gol tanpa balas.

Terdapat kejadian unik ketika pelatih SSB Tunas Tirta memasukkan pemain bernomor punggung 20 yang masih sangat kecil. Sempat disambut dengan sorak-sorai penonton, pemain muda tersebut gagal menunjukkan performanya. Mungkin, pelatih sengaja memasukannya untuk menempa mental pemain tersebut. Selain kejadian itu, masih ada momen lucu ketika saat pertandingan berlangsung, Rizki Aulia justru berceloteh "Weh, difoto, Cah!" ketika melihat saya membidik dengan kamera.

Pertandingan selanjutnya adalah untuk kelompok tahun kelahiran 2000. Para pemain yang tergabung dalam pertandingan ini lebih matang dari sebelumnya. Mereka bermain dengan posisi masing-masing, tidak asal kejar. Yang paling penting, para pemain dapat bermain secara taktis, memanfaatkan umpan pendek cepat untuk selanjutnya membuka peluang. Pada pertandingan ini SSB Zettle Meyer berkali-kali bermain menyayap. Skor akhir adalah 1-0 untuk kemenangan SSB Zettle Meyer.

Ketika matahari sudah mulai bergerak ke atas, rumput Lapangan Ngijo mulai memanas, saat itu pula pertandingan pamungkas digelar. Para pemain inti dari kelompok umur 1999 ke bawah dipertandingkan. Para pemain sudah cukup matang secara fisik, teknik, dan taktik. Lapangan yang digunakan juga bukan lagi hanya setengah, namun seluruh lapangan. Bermain dua babak, kedua tim tidak mau kalah dengan saling tukar menukar serangan. Namun, permainan taktis SSB Zettle Meyer membuat Zettle Meyer menang.


Terdapat dua pemain yang patut diperhitungkan dari SSB Zettle Meyer, yakni nomor punggung 25 dan 5. Namanya Tegar (25) dan Gaga (5), keduanya merupakan putra dari Pak Harto, pimpinan SSB tersebut. Sebagai defender, Tegar berbadan tinggi dan bermain cukup konsentrasi, dan pada pertandingan ini ia mencetak assist melalui bola lambung dari tengah lapangan. Sedangkan Gaga yang juga cukup tinggi, bermain apik sebagai sayap kanan, puncaknya mampu mencetak gol. Untuk SSB Tunas Tirta, pemain dengan nomor punggung 44 oleh penonton dianggap pemain membahayakan dengan lari di atas rata-rata.


Sekitar pukul 11.00 WIB pertandingan selesai, pemain dan ofisial kedua tim saling bersalaman. Semangat persahabatan tetap dijunjung walaupun SSB Tunas Tirta tiga kali menelan kekalahan.


Pelanggaran, wasit menunjuk pemain nomor 63.

Pemain nomor punggung 20 yang baru saja dimasukkan hampir terkena tendangan.

Di sini juga ada sliding tackle, Bung!

Kelompok umur 2000 ke atas berfoto bareng. Rizal Aulia yang saya maksud sebelumnya ada di bagian kiri bawah.

Saya baru menyadari kalau pelatih Bonansa, Mas Memet, menjadi wasit pertandingan ini. Itupun saya ketahui setelah bertemu dengan beliau di Stadion UNS. Mas Memet biasa membantu melatih SSB Zettle Meyer saat Minggu pagi.

Pertandingan kelompok kelahiran tahun 2000.

Lemparan ke dalam melambung tinggi.

Terlihat Mas Chandra, mahasiswa JPOK UNS, duduk bersama anak didiknya.

Bola terbang ke atas gawang. Amati pemain nomor 68 yang menutup kepalanya dengan kardus menghindari panas.

Gaga paling belakang, sedangkan Tegar nomor 4 dari kanan.

Rejeki.

Ibu-ibu menonton pertandingan anaknya.

Nomor punggung 44, Rizal, bermain cukup bagus.



Lebih lanjut mengenai berita sepakbola usia dini. Cek ini..



Cek di sini..

5 Responses so far.

  1. kalau para pengurus PSSI punya kepedulian utk melakukan pembinaan sepak bola sejak usia dunia, mungkin prestasi timnas sudah makin heboh, ya, mas.

  2. eh, maaf, maksud saya sejak usia dini, mas andika, hehe ....

  3. andika says:

    Iya, Pak. Kecenderungannya itu kompetisi tingkat bawah kurang diperhatikan. Panitia pelaksana turnamen biasanya terkendala dana dan fasilitas. Padahal semuanya justru berawal dari situ. Kecenderungan PSSI mencari pemain jadi perlu segera diubah.

  4. hanung says:

    maju terus dan semangat

  5. Anonim says:

    Mas kalu mau daftar ssb ini dimana ya.. langsung kesiapa

Leave a Reply