Abstractive Sense

Saya bukan seseorang yang gemar mengoleksi anime asal Jepang. Namun, saya masih ingat sebuah film bertema sepakbola disiarkan oleh salah satu stasiun TV swasta sekitar tahun 2004, Whistle!. Satu hal yang menjadi catatan tersendiri, film ini tidak sekedar mengandalkan plot dan grafis semata, namun memberikan motivasi dan pengetahuan sepakbola. Pengetahuan mengenai teknik-teknik sepakbola, semisal cara menendang yang baik, disisipkan di bagian paling akhir setiap episode. Untuk motivasi, dapat dilihat dari pemilihan tokoh utama.

Tokoh utama bukan seseorang yang dilahirkan menjadi pemimpin seperti Tsubasa dan dianugerahi teknik yang jauh melebihi rekan-rekannya, bahkan sejak dari awal cerita. Shou Kazamatsuri dikisahkan sebagai seorang yang memiliki tinggi badan di bawah rata-rata dan secara psikologis rendah diri. Bahkan, selain  gagal menembus tim inti sepakbola sekolah, inilah yang menjadi sebab kepindahannya dari sekolah Musashinomori ke Sakura Josui. Namun, mengikuti jalannya cerita, Shou semakin terampil dan menyadari bahwa kelebihannya adalah juggling, semangat menempa diri, dan kontribusi orang-orang di sekitarnya.

Di bawah ini adalah kata-kata yang dapat memotivasi seseorang yang memiliki keinginan untuk menjadi pesepakbola. Screenshut saya ambil dari youtube dari episode 1-10 dengan kontributor twotaileddemon dan tissuebox51.

Episode 1

“If I give up a dream, it ends there. Just because I thought it’s impossible, regretting it is something I don’t want to do at all! I won’t lose to soccer”,
Shou Kazamatsuri


Kurang lebih dapat diartikan "Jika saya menyerah menggapai mimpi, ini akan berakhir di sini. Hanya karena ini tidak mungkin, menyesal adalah sesuatu yang sama sekali tidak ingin saya lakukan! Saya tidak akan kalah dengan sepakbola". Diucapkan Shou setelah terjadi salah sangka oleh guru sekaligus pelatih Yuko Katori diperkenalkan sebagai pemain inti Musashinomori, dan saat pertandingan itu pula ia gagal menunjukkan kualitas. Sempat hampir menyerah, setelah diingatkan oleh teman perempuannya, Kojima, ia kembali menempa diri untuk menjadi lebih baik dengan mengucapkan kata tersebut.





"If the opponent is better than you, just polish what you’re good at, and fight with it."
Kou Kazamatsuri

Kurang lebih dapat diartikan "Jika lawan lebih baik daripada kamu, asah apa yang menjadi kelebihanmu, dan bertarung dengan itu". Diucapkan ketika kakak Shou Kazamatsuri, Kou, memberikan wejangan yang ia ambil dari sebuah buku. Shou memiliki keunggulan dalam hal juggling, jika diasah dengan benar, justru dengan itulah ia bisa mengungguli lawan dan rivalnya.


Episode 7


"Think from the opponent's view and try acting out. If it was the enemy, what moves would you not like? If it was your ally, what moves would you want them to move?"
Souju Matsushita

Kurang lebih dapat diartikan "Berpikirlah dari cara pandang lawan dan lakukan. Jika itu adalah lawan, gerakan apa yang tidak kamu sukai? Jika itu adalah teman, gerakan apa yang kamu inginkan mereka lakukan?" Diucapkan pelatih baru tim sekolah Sakura Josui, saat turun minum melawan tim kuat Musashinomori. Pelatih itu mengungkapkan pentingnya teamwork dengan mencontohkannya dari posisi lawan bertanding.



"If you can dream, you can do it"
Tomoyuki

Kurang lebih dapat diartikan "Jika kamu dapat bermimpi, kamu dapat melakukannya (mewujudkannya)". Pesan yang ditulis di deker Shou, oleh sahabat lamanya ketika bersekolah di Musashinomori, tepat ketika Shou berada di lorong hendak keluar. Kepindahannya ke Sakura Josui menjadikan hubungan persahabatan keduanya sempat rusak. Justru pertandingan inilah yang menjadikan keduanya bersahabat lagi, bahkan ia memberi dukungan langsung.

Episode 10


"God only gives ordeals to those who can get over them"
Oya-san

Kurang lebih dapat diartikan "Tuhan hanya memberi cobaan berat untuk mereka sesuai dengan kemampuan mereka". Diucapkan seorang pemilik oden (kalau di Indonesia mungkin semacam angkringan atau hik,hehe), yang terletak di dekat sungai yang biasa digunakan Shou untuk berlatih. Oya-san memberitahu pelatih Sakura Josui bagaimana perjuangan Shou untuk menjadi pemain yang handal. Shou berlatih menendang bola hingga larut malam.

Siapapun tahu, bahwa yang namanya film kartun seperti ini hanya ada dalam imajinasi sang kreator. Banyak hal yang terkadang dilebih-lebihkan, dan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Namun, setiap film selalu memiliki nilai-nilai yang terkandung, dan setiap kreator selalu sadar akan nilai yang mereka ajarkan, baik secara terang-terangan maupun secara terselubung. Oleh karena itu, dengan kata-kata ini, sang kreator mungkin mengharapkan anak-anak yang menonton film ini termotivasi seperti Shou.

Mengenai Indonesia, sosok Shou mungkin ada kemiripan dengan kebanyakan anak Indonesia lainnya. Shou tidak terlalu tinggi dibandingkan rekan-rekannya, namun dengan kegigihan, ia mampu menggapai segalanya. If you can dream, you can do it!

Categories: , , ,

3 Responses so far.

  1. Sukadi says:

    yang penting tetap semangat dan pantang menyerah... :)

  2. andika says:

    Pak Sukadi: Mindset menjadi pemenang tapi sportif perlu ditanamkan dalam benak para generasi muda, khususnya calon pesepakbola. :)

  3. bukan hanya skill yg harus nya ditanamkan, tapi moral yang baik agar benar2 menjadi professional :)

Leave a Reply