Abstractive Sense

Sejak tengah hari, usai pertandingan antara SSB Putra Berlian melawan SSB Kesatria, beberapa penonton keluar dari Stadion Pandan Arang. Bukan karena pertandingan yang tidak menarik lagi, tetapi karena molornya pertandingan final dan perebutan tempat ketiga. Bahkan, sisi lapangan sampai digunakan oleh para pemain SSB Pandanarang dan anak-anak sekitar untuk bermain bola.

Di antara sekitar dua jam menunggu tanpa kepastian, saya sampai berinisiatif untuk pulang. Namun, entah kenapa, setelah berkeliling singkat Kabupaten Boyolali untuk membunuh waktu, saya mengurungkan niat dan kembali ke stadion. Hasilnya, baru sekitar pukul 02.30 WIB, pertandingan perebutan juara ketiga digulirkan.

SSB Kesatria Solo yang dijadwalkan bermain melawan SSB Indonesia Muda (IM Sragen), oleh suatu sebab memilih walk out (WO). Sebentar pemain SSB IM Sragen masuk bersama wasit untuk melakukan seremoni layaknya pertandingan biasa, hingga berancang-ancang mengambil kick-off, seketika itu pula para pemain keluar dengan kemenangan SSB IM Sragen.

Para pemain PSB Bonansa UNS menerima arahan.
Beberapa saat kemudian terlihat para pemain dari tim finalis, PSB Bonansa UNS Solo dan SSB Putra Berlian Semarang, melakukan pemanasan. Perjuangan PSB Bonansa UNS sendiri berawal dari fase grup untuk memperebutkan satu dari dua tiket ke babak selanjutnya. SSB yang masih di bawah Rektor UNS ini satu grup dengan Puslat Salatiga, SSS Semarang, dan tim tuan rumah SSB Pandanarang. Sempat bermain imbang 2-2 dengan SSS Semarang, pada pertandingan lain Bonansa mengalahkan Puslat Salatiga dan SSB Pandanarang, keduanya dengan skor 1-0. Setelah lolos dari fase grup, tim yang memiliki sekretariat di Kepatihan Kulon ini bertemu dengan SSB Terang Bangsa Semarang pada laga hidup mati pertama. Sama kuat pada waktu normal, hasil pertandingan ditentukan melalui adu penalti. Kegagalan satu eksekutor dari SSB Terang Bangsa menjadikan Bonansa menang dengan skor 5-4. Pada pertandingan semi final, kesebelasan yang pernah menjuarai Piala Menpora 2009 ini mengungguli SSB Indonesia Muda (IM) Sragen melalui satu gol pemisah.

Pertandingan dimulai sekitar pukul 03.15 WIB, setelah sempat diadakan pengecekan akte kelahiran. Hal ini dilaksanakan untuk mengantisipasi praktek pencurian umur oleh kedua tim.

Waspada pencurian umur.

Foto bersama sebelum pertandingan.
Pada babak pertama, SSB Putra Berlian menunjukkan permainan menyerang seperti sebelumnya, walaupun cukup terlihat bahwa tim asal Semarang ini mengalami penurunan performa. Begitupula PSB Bonansa, walaupun para pemainnya  memiliki fisik yang relatif kecil dibandingkan SSB Putra Berlian, juga tidak mau mengedurkan serangan.

Adalah pemain nomor punggung 12 dari PSB Bonansa, Abdul Gani, yang saat itu menjadi perhatian para penonton. Bek sayap kelahiran tahun 1997 ini, walaupun memiliki ukuran tubuh relatif kecil, tapi bermain cukup ngotot. Ia bermain tanpa mengenal kompromi, berkali-kali mampu menyerobot bola dari pergerakan lawan. Bukan hanya dalam bertahan, pemain ini juga kerap membantu penyerangan atau bahasa bekennya overlapping. Bahkan, para suporter asal Solo sampai menyerukan nama "Gani" ketika ia sukses mengamankan bola. Pemain ini jadi mengingatkan saya pada permainan M. Nasuha, yang berjuang mati-matian untuk Tim Garuda.

Sebenarnya masih ada satu pemain lagi dari PSB Bonansa yang bertipikal sama dengan Abdul Gani. Pemain yang juga sama-sama mengisi pos bek sayap itu bernama Ervin. Bersama Gani, Ervin juga dielu-elukan suporter PSB Bonansa UNS.

Saling serang.

Saling bertukar serangan, kedua tim gagal mencetak gol pada waktu normal. Oleh panitia, penentuan juara diselesaikan dengan adu penalti. Layaknya pertandingan di tingkat profesional, atmosfer pertandingan yang mendebarkan sangat terasa pada tahap ini. Para pemain dari kedua tim berdiri di tengah lapangan, dengan satu persatu pemain berjalan mendekati gawang untuk "duduk di kursi panas". Sama halnya dengan kedua kiper, mereka harus berjibaku menyelamatkan gawang dari bola yang ditendang dan mental yang dipertaruhkan.

Seorang pemain Putra Berlian berjalan meninggalkan rekannya untuk mengeksekusi penalti.
Pemain SSB Putra Berlian dengan nomor punggung 10, mengambil tendangan pertama. Dengan tenang ia mampu menaklukan kiper PSB Bonansa UNS dan menaikkan moral rekan setimnya. Selanjutnya, pemain dengan nomor punggung sama menjadi eksekutor pertama PSB Bonansa UNS, dan ia berhasil. Kedudukan tetap berimbang setelah pemain Putra Berlian dan Bonansa mampu menyarangkan bola.

Penalti gagal.
Para penonton bergemuruh setelah pemain nomor punggung 11 dari SSB Putra Berlian gagal menyarangkan bola. Seolah satu tangan dari PSB Bonansa UNS sudah memegang piala, tetapi pemain mereka dengan nomor punggung 29 justru gagal memanfaatkan keunggulan setelah tendangannya juga masih diamankan kiper. Pada adu penalti ini terdapat hal yang lucu, ketika komentator tidak mampu menyebutkan nomor punggung pemain karena kurang jelas dilihat dari tempat duduknya.

Gol.
Dua eksekutor selanjutnya dari kedua tim mampu menyarangkan gawang, hingga adu penalti dilanjutkan melalui eksekutor keenam. Pemain dengan nomor punggung yang sama dari kedua tim, yakni nomor 2, berhasil menjaga peluang kedua tim. Uniknya, pemain dari PSB Bonansa UNS tersebut sempat melakukan selebrasi unik dengan bertingkah seperti tentara yang meruduk di tanah sebagai wujud ejekannya kepada kiper.

Para pemain dan ofisial menyerbu penendang terakhir.
Suporter Bonansa yang kegirangan.
Mas Memet, pelatih PSB Bonansa UNS dielu-elukan para pemainnya.

Tendangan ketujuh memastikan kemenangan PSB Bonansa, setelah pemain dari SSB Putra Berlian, yang lebih dahulu mendapatkan kesempatan, gagal memperpanjang nafas. Terlihat pemain tersebut sangat terpukul terlihat dari jalannya yang sempoyongan. Di sisi lain eksekutor ketujuh PSB Bonansa UNS mampu mencetak gol yang langsung dikerubuti para pemain dan ofisial.

Panpel juga berkumpul.
Bupati Boyolali ketika menyerahkan piala kepada salah seorang pemain PSB Bonansa.
Setelah euforia kemenangan, para pemain berkumpul bersama panpel untuk menerima hadiah kejuaraan. Berurutan dari juara tiga ke juara pertama mendaptkan uang pembinaan sebesar Rp 750.000, Rp 1.500.000, dan Rp 2.000.000, selain piala tentunya. Bupati Boyolali turun langsung untuk menyerahkan piala untuk tim PSB Bonansa UNS.

Mungkin, hingga akhir posting, alasan mengenai pemilihan judul sama sekali belum saya singgung. Kata "Penalty Bonanza" dapat dibagi dari dua kata, yakni penalty dan bonanza. Penalty tidak lain adalah tendangan dua belas pas, sedangkan kata bonanza biasa digunakan ketika terjadi hujan gol dalam satu pertandingan, yang mirip dengan nama tim pemenang. Sebagai catatan, total ada 11 gol yang tercipta dari adu penalti.


Lebih lanjut mengenai berita sepakbola usia dini. Cek ini..



Cek di sini..

2 Responses so far.

  1. Alris says:

    Wah, mantaaap. Saya seneng liat kegiatan begini. Tapi saya sebel liat kelakuan pengurus pssi mencalonkan mantan napi jadi ketua umum.
    salam

  2. andika says:

    Salam olahraga. Kalau mengikuti perkembangan sepakbola nasional, akhir-akhir ini memang panas banget, bukan lagi sekedar olahraga hiburan. Banyak yang selain sebel juga geregetan ma Mr.N. Oleh karena itu, nonton "sepakbola akar rumput" memang ada daya tariknya sendiri bagi saya, minim kepentingan.

Leave a Reply