Abstractive Sense


Selain dalam bulu tangkis, dahulu kala, Indonesia juga pernah menjadi Macan Asia di cabang olahraga sepakbola. Bahkan, dengan mengusung nama Hindia-Belanda, Indonesia pernah mencicipi menjadi kontestan Piala Dunia pada 1938. Hingga saat ini, raksasa ini seolah masih tertidur dan belum bangun-bangun.

Namun, saya cukup kaget ketika menginstall sebuah game lama, Championship Manager 97/98. Game manajerial tim sepakbola yang merupakan "nenek moyang" dari game Championship Manager yang sekarang dan Football Manager. Ketika menyelami database tim-tim sepakbola di game tersebut, saya baru menyadari bahwa ternyata, bersama Thailand dan Singapura, Indonesia mendapat tempat di dalam game tersebut.

Game yang terkenal akan databasenya ini dibuat oleh programer Collyer bersaudara, Paul dan Oliver, di bawah bendera Sports Interactive. Memang, Sports Interactive juga mempekerjakan peneliti-peneliti yang disebar di seluruh dunia. Menurut informasi pada game, tim peneliti yang diketuai oleh Mark Woodger, melanglang buana hingga mendapatkan sekitar 20.000 pemain dan 2.500 tim.

Total ada 9 liga yang bisa dimainkan, mulai dari Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, Prancis, Skotlandia, Belanda, Portugal, dan Belgia. Untuk memperoleh hasil talent scouting yang maksimal, tanggung jawab sembilan negara tersebut dipegang sembilan kepala peneliti.

Selain kepala peneliti, masih ada para peneliti lain yang disebar di puluhan negara dan klub, untuk klub terbatas hanya Liga Inggris dan Skotlandia. Sebagai catatan, untuk Asia, SI hanya mengambil lokasi penelitian di Jepang dan Singapura. Wilayah Singapura sendiri dipegang oleh tiga peneliti sekaligus. Tak ayal, CM 97/98 mencatat 8 tim asal Singapura, termasuk tim besar SAFFC (Singapore Armed Force FC), Geylang United, dan Tampines Rovers, klub lama Noh Alam Shah dan M.Ridhuan. Berbeda dengan Singapura, untuk Indonesia dan Thailand hanya menitipkan satu timnya. Indonesia dengan Mastrans Bandung dan Thailand dengan Thai Farmers.

Satu-satunya tim asal Indonesia, Mastrans Bandung, walaupun tanpa pemain asli.

Jika dilihat dari timnas, mungkin Indonesia bisa lebih berbangga, karena Kurnia Sandy terdaftar sebagai kiper Sampdoria pada database yang dapat diakses jika memilih Liga Inggris. Sudah menjadi ketentuan, ketika memilih permainan Liga Inggris, maka database tim dan pemain "rest of the world" yang dimiliki akan lebih sedikit dibandingkan dengan memilih liga lain. Hal ini disebabkan dalam Liga Inggris sendiri sudah terdapat beberapa divisi dan lebih banyak tim. Dalam permainan ini pertama kali saya memilih Liga Inggris, kemudian saya mengulang dengan Liga Belanda untuk mengecek perbedaan database.

Sebagian pemain yang sebelumnya pemain "pupuk bawang" atau palsu, ada kemungkinan menjadi pemain asli. Hal ini terjadi untuk timnas Indonesia, Singapura, dan Thailand yang skuadnya berisikan para pemain asli pada database Liga Belanda. Dalam timnas Singapura terdapat Fandi Ahmad, yang saat itu berkostum SAFFC. Sedangkan timnas Indonesia, selain Kurnia Sandy, juga diperkuat pemain asal Helsingborg, yakni Bima Sakti.

Indonesia pada database Liga Inggris, hanya terdapat Kurnia Sandy.
Kurnia Sandy, kiper Bandung FC ini masuk database inti, selalu ada walaupun memilih liga manapun.
Skuad Timnas Indonesia pada database Liga Belanda, jauh lebih lengkap.
Bima Sakti, pemain Persema ini bermain di Helsingborg, Sweedia.
Timnas Singapura pada database Liga Belanda.
Fandi Ahmad, pelatih yang pernah menukangi Pelita Jaya ini bermain di SAFFC.
Timnas Thailand pada database Liga Belanda. Terdapat tiga pemain palsu, salah satunya Bima Sakti. XD

Sayangnya, beberapa nama pemain, khususnya Indonesia dan Thailand, dianggap bermain di tim kecil, seperti di bawah ini. (Tanggal lahirnya ngaco!)




Eri Irianto, legenda Persebaya yang meninggal beberapa saat setelah bertanding membela Persebaya.
Hendro Kartiko, mantan kiper nomor satu timnas.
Edward Ivak Dalam, mantan kapten Persipura.
Kurniawan Dwi Yulianto, mantan striker andalan Timnas yang kini bermain di Tangerang Wolves.
Robby Darwis, eks pemain Persib Bandung yang akhirnya juga melatih tim yang sama.
Rocky Putiray, seorang striker yang pernah membobol dua kali gawang raksasa Italia, AC Milan.
Keatisak Senarmung (penyebutannya salah), legenda Thailand yang cukup populer ini juga berasal dari tim antah berantah.

Khusus berbicara mengenai timnas Indonesia, selain keberadaan Kurnia Sandy dan keberadaan skuad aslinya, ada satu fakta lain yang cukup menggelitik. Nama-nama para pemain timnas Indonesia digunakan untuk mengisi para pemain palsu dengan dipadukan nama-nama dari China dan Jepang untuk mengisi skuad tim-tim asal Asia. Inilah penampakannya.

Skuad Filipina berisi nama-nama Indonesia-Jepang.
Skuad Korea Selatan berisi nama-nama Indonesia-Jepang-China.

Di sini, saya tidak membahas bagaimana kondisi sebenarnya Kurnia Sandy di Sampdoria, atau kondisi Bima Sakti di Helsingborg. Dari game ini saya menyimpulkan bahwa pada sekitar musim 1997/1998, kiprah persepakbolaan Indonesia cukup diperhatikan oleh pengembang game ini.  Padahal, game manajer sejenis ini (FM atau CM terbaru) banyak dimainkan oleh gamer internasional. Minimal, setiap gamer yang membuka skuad tim Sampdoria pun akan bertanya-tanya keberadaan pemain bernama Kurnia Sandy. Jika dahulu mereka memperhatikan kita, lalu bagaimana jika persepakbolaan Indonesia memiliki tren positif?

Categories: ,

9 Responses so far.

  1. errick says:

    pasti bangga kalo pernah maen game ini pas jamannya... btw, di FIFA road to world cup 98 tim indonesia juga ada...

    btw, thx 4 ur visit

  2. Byan says:

    wah game penggemar sepak bola nih... hehe... keep sharing bro.. thax ya 4 ur vsit

  3. andika says:

    Errick: Wah, saya malah belum tahu nih. Tapi yang jelas, akhir-akhir ini Indonesia masuk game itu gara-gara dihack sendiri. Salah satunya Gururupa yang "bertanggung jawab" memasukkan Indonesia ke PES 2011.Haha

    Byan: Sama-sama, Bro. Langsung berkunjung balik nih.

  4. sayangnya kok hanya ada dalam game, ya, mas. alangkah membanggakan dan mengharukan kalau pertasi para pemain timnas benar2 riil dan diakui dunia. semoga pasca-suksesi pengurus pssi nanti ada perubahan total, sehingga pssi bisa mengangkat prestasi timnas kita. salam olahraga.

  5. andika says:

    Pak Sawali: Itu masalahnya, Pak. Cuma dalam game. Tapi kalau melihat sepak terjang PSSI sekarang kelihatannya juga seperti dalam game, terancam gameover.hehe

    Permasalahannya, suksesinya berhasil atau tidak. Kalau seupama berhasil, lalu seberapa seriuskah penggantinya untuk merombak betul persepakbolaan nasional. Sebagai warga negara yang baik, kita hanya bisa mendoakan dan berbuat sebisa kita, Pak.:D

  6. keren bang postnya. Saya main FM 2008 pun, database pemain Indonesianya ngaco-ngaco. Waktu saya main di Liga Indonesia, banyak pemain yang ngaco, apalagi tim u-21nya. Padahal, pengguna FM di Indonesia termasuk banyak kan?

  7. Anonim says:

    bisa ga yah ngelatih indonesia di cm 97/98.....????

  8. Anonim says:

    sangar iki mas,,stat pemain indonesia saaat itu ada yg sampe 20 beda bgt ma yg sekarang di cm / fm ga ono sing luwih soko 10+ btw nice share mas...:D

  9. Elhazel says:

    Waduh, blast from the past, jadi kangen main ini lagi :)

Leave a Reply