Abstractive Sense


Masih ingat posting ketika Indonesia U-16 bertanding melawan Timor Leste U-16 di Stadion Manahan? Indonesia menang setelah gol semata wayang yang diciptakan oleh Nugroho pada pertandingan yang digelar pada 21 September 2010 lalu.


Saya baru ingat, waktu itu saya bertemu dengan dua sosok di tribun utara yang sampai saat ini masih membekas di pikiran. Tribun utara dikenal sebagai tribun khusus fans fanatik Persis Solo, atau Pasoepati.

Saat itu, seperti biasa, saya memulai pembicaraan dengan para penonton yang ada di sana. Topik pembicaraan hampir selalu sama, yakni mengenai jalannya pertandingan. Pertama adalah seorang anak kecil yang pada foto di bawah ini sedang berteduh dari gerimis yang mengguyur Stadion Manahan, salah satu dari dua anak tersebut.

Salah satu dari dua bocah ini.

Setelah itu, saya iseng menanyai bocah tersebut, apakah ia ingin menjadi pemain bola seperti para punggawa timnas yang saat itu sedang bermain. Ia mengakui bahwa menjadi pesepakbola adalah salah satu dari tujuan hidupnya, namun sepatu bola menjadi kendalanya. Jadi teringat kisah masa lalu jangkar timnas senior yang bermain di Arema Malang, siapa lagi kalau bukan Ahmad Bustomi. Bagaimana sepatu bola Bustomi kecil, didapat dengan susah payah ketika ibunya menjual emas satu-satunya. Tanpa sepatu itu, belum tentu sekarang Bustomi menjadi punggawa Arema, apalagi timnas. Dari kasus itu, saya membayangkan, mungkin ada ribuan bocah-bocah lain yang mengalami problem yang sama, yakni sepatu bola.


Di tribun utara.
Nah, untuk yang kedua, saya bertemu seorang pemuda yang tergolong kalem, terutama jika dibandingkan para penonton lain yang berteriak-teriak mendukung timnas. Sempat berbicara mengenai jalannya pertandingan, beberapa saat kemudian saya mengetahui bahwa ia adalah seorang atlet sepakbola. Namanya Ardy, saat itu, ia mengaku tercatat sebagai pemain di sebuah klub di Jakarta. Seketika ia mengambil handphone-nya dan membuka file foto kesebelasannya. Walaupun pixel-nya cukup kecil dan kurang begitu jelas, namun itu cukup meyakinkan saya. Pemain asal Palur itu memiliki cita-cita menjadi bagian dari Laskar Sambernyawa, walaupun belum kesampaian. Bahkan, alasan utama kepulangannya ke Solo yakni untuk mengikuti seleksi Persis Solo.

Beberapa pekan kemudian, ketika membeli salah satu koran lokal Solo, saya mendapati profil pemain bersangkutan di bagian olahraga. Seperti biasa, di bagian olahraga, terdapat satu halaman yang berisi berita-berita khusus sepakbola nasional dan dari Solo. Hebat, ternyata cita-citanya terwujud, ia sukses menjadi pemain Persis. Walaupun masih belum menghuni tim utama, tapi setidaknya satu langkah dari mimpinya telah terwujud.

Diambil dari Koran Solopos, ditulis oleh Imam Yuda Saputra, foto oleh Alfian Maulana Latief.

Pernah diberitahu nomor handphone-nya, untuk sekedar mengucapkan selamat, ketika saya cek kembali di daftar kontak ternyata tidak ada. Sekarang salah satu cita-cita menjadi pemain Persis Solo sudah terwujud, semoga saja ia tetap termotivasi untuk raihan yang lebih tinggi. Kisah yang mengingatkan saya pada salah satu pesan pada film animasi sepakbola asal Negeri Sakura, Whistle!, pada episode 7.

"If you can dream, you can do it!"