Abstractive Sense

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, tabloid sepakbola terbaru selalu ditunggu-tunggu di rumah setiap pekan. Maklum, saya dan dua saudara saya terkena efek pesta olahraga sejagad yang digelar di negara yang identik dengan Menara Eiffel. Jika sebelumnya kurang menanggapi serius cabang olahraga internasional ini, semenjak event itu kami menjadi bagian dari manusia gila bola.

Melalui tabloid tersebut, kami mengikuti perkembangan "nasib" klub-klub liga di Eropa, mulai dari Lega Calcio hingga EPL. Saya akui, saat itu saya adalah Laziale, atau fans SS Lazio, secara otomatis saya lebih fokus pada berita-berita dari Serie A. Justru kakak saya, Swante Adi Krisna, sedari awal menjadi fans Arsenal FC. Tentunya ia pernah menjadi satu dari ribuan fans Arsenal di seluruh dunia yang kecewa ketika Tim Gudang Peluru tumbang oleh Raksasa Turki, Galatasaray, pada final Piala UEFA tahun 2000.

Belum ada akses telekomunikasi yang memadai, berkirim surat saat itu menjadi alat utama berkirim pesan. Kebetulan, dalam tabloid tersebut kerap dicantumkan informasi klub-klub Eropa, termasuk alamat klubnya. Melalui info tersebut, kami berinisiatif menulis surat kepada pemain-pemain top Eropa. Dipandu oleh ibu, atau mungkin lebih tepat dibuatkan, surat ditulis dengan bahasa Inggris tentunya.

Saya mengirimkan surat ke salah satu gelandang The Three Lions yang sekaligus menjadi punggawa rival sekota Arsenal, yakni Darren Anderton. Adik saya, Tatas BM, mengirimkan dua surat sekaligus ke dua gelandang elegan yang menjadi ikon dari klubnya masing-masing, yakni David Beckham (Manchester United) dan Francesco Totti (AS Roma). Sedangkan, kakak saya, Swante AK, mengirimkan surat ke Stadion Highbury, dengan tujuan pemain timnas Belanda yang takut naik pesawat, siapa lagi kalau bukan Dennis Bergkamp. Melalui ayah saya, surat dikirimkan ke Stadion White Hart Lane, Old Trafford, Olimpico, dan Highbury.

Kesabaran menjadi harga mati untuk menunggu surat sampai ke tangan pemain yang bersangkutan, apalagi menerima surat balasan. Hari berganti hari, pekan berganti pekan, suatu ketika surat balasan tiba, ternyata justru dari pihak Arsenal yang mengirimkan surat balasan. Kakak saya menerima surat balasan (sudah hilang) satu paket bersama katalog merchandise resmi musim 1999/2000 dan sebuah memorabilia lukisan sketsa tiga sosok berkebangsaan Perancis di Arsenal beserta tanda tangannya.

Mereka adalah Arsene Wenger, Sang Profesor, Patrick Vieira, kapten yang tegas dan lugas, serta Remi Garde, pemain serba bisa yang didatangkan hampir bersamaan dengan Vieira. Aroma Perancis semakin terasa ketika di kertas tersebut terdapat dua tulisan Perancis, "Allez Les Rouges!" dan "Meilleurs Souhaits". Kata yang pertama kurang lebih berarti memberi semangat, kata yang kedua berarti "Semoga Sukses". Untung saja, kertas tersebut sejak awal sudah di-press sehingga tidak sobek atau rusak.

Three Frenchmen

Patrick Vieira, salah satu figur sentral terciptanya Invincible pada musim 2003/2004 di EPL.

Remi Garde, menjadi pemain serba bisa mengantarkannya ke gerbang timnas Perancis.

Arsene Wenger, pelatih yang seolah terlahir untuk menangani The Gunners jika dilihat dari namanya dan lama melatihnya.

Diambil melalui game Championship Manager 97/98, kira-kira seperti inilah daftar pemain Arsenal ketika musim 1997/1998. Satu tahun bergabung, Patrick Vieira dan Remi Garde menjadi penghuni lapangan tengah Arsenal.

Setahun kemudian, menjelang musim kompetisi 2000/2001, ternyata Arsenal masih mengirimkan lagi katalog merchandise resmi dengan kover Thierry Henry. Masih ada satu hal yang belum saya sebutkan. Berbeda dengan surat kepada Bergkamp, tidak jelas ketiga surat yang kami kirimkan ke Beckham, Totti, dan Anderton. Tetapi, bukan berarti momen ini yang merubah saya dari Laziale menjadi fans The Gunners. Justru seorang pemain flamboyan nan eksplosif dalam game Winning Eleven yang dulunya memaksa saya kerap memakai tim Arsenal dan berangsur-angsur menjadi pendukungnya. Dialah King Henry. :D

Categories: , , , ,

2 Responses so far.

  1. adetruna^ says:

    yang hebat sang ibu, menjadi jembatan telekomunikasi kalian *Hebat2....Terharu juga saya bacanya.

  2. wah, kunjungan balik kilat.hahaha

    Terima kasih atas kunjungannya, Pak. Besok jangan lupa bawa sanak saudara kemari ya.hehe

Leave a Reply