Abstractive Sense

Pemain SSB Bhaladika dan SSB Djarum Kudus pasca pertandingan final

Pada tanggal 6 Maret, ketika saya berangkat menuju Stadion UNS, saya melewati kawasan rektorat UNS yang cukup ramai. Banyak warga berbondong-bondong di sekitar lapangan yang biasa digunakan upacara mahasiswa baru ini. Saat itu terlihat sekumpulan Reog yang menari-nari di lapangan Rektorat. Menurut data yang terhimpun, pentas budaya itu merupakan bagian dari deklarasi pembentukan Institut Javanologi oleh universitas di Kentingan tersebut.

Seorang bocah dengan latar belakang sekumpulan Reog.
Posting kali ini masih berkutat di penyelenggaraan Piala Rektor 2011 pada hari terakhir yang sesuai jadwal digelar di Stadion UNS. Namun, karena faktor hujan yang menyebabkan lapangan tidak bisa digunakan, laga perebutan tempat ketiga dan final digelar di Lapangan Yonif 413, Palur. Inilah pertandingan-pertandingan yang saya tonton.

Babak Delapan Besar
Diklat PSIM Jogja (Biru) vs  PSB Bonansa UNS (Hijau)
1-0

Lolosnya Tuan rumah PSB Bonansa UNS ke delapan besar Piala Rektor 2011 langsung mendapat perlawanan sengit dari Diklat PSIM Jogja. Sejak awal, tim yang masih menjadi bagian dari tim PSIM Jogjakarta ini berkali-kali menekan Laskar Kere. Publik tuan rumah terhenyak setelah gawang Bonansa robek oleh pemain lawan. Berada dalam tekanan, seorang pemain tuan rumah sempat tidak bisa menahan emosi. Semenjak pertengahan babak kedua, permainan Bonansa mulai membaik. Tim tuan rumah mendapatkan angin segar ketika seorang pemainnya dilanggar di kotak penalti. Namun, algojo gagal menyamakan kedudukan setelah penalti hanya menghujam tiang gawang.

Pasca pertandingan, saya berinisiatif menemui ofisial Diklat PSIM Jogjakarta untuk bertanya mengenai tim tersebut. Namanya Pak Suheri Marjio, beliau bertanggung jawab dalam menyusun kurikulum tim tersebut atau 'kepala sekolah' menurut manajer tim Pak Ananto. Menurut Pak Suheri, walaupun untuk saat ini masih menjadi bagian dari PSIM, namun struktur kepengurusan Diklat PSIM sudah terpisah. Diklat PSIM biasa berlatih di Stadion Kridosono, sebuah stadion yang diurus oleh pihak swasta bernama PT. Anindya.

Diklat ini melatih pemain untuk kelompok umur 16 tahun dan 18 tahun. Cara memperoleh pemain pun melalui seleksi dari beberapa SSB saat kompetisi oleh tim pemandu bakat. Disiplin sangat ditegakkan, jika ada yang bermasalah, tim bisa mengembalikan pemain tersebut ke orang tuanya setelah sebelumnya diberi peringatan namun tetap dilanggar. Pemain yang bagus langsung diambil oleh PSIM Jogjakarta, sedangkan jika ada tim lain yang berminat mentransfer pemain didikan, maka harus membayar kompensasi. Masih menurut Pak Suheri, tim PSIM merupakan salah satu tim yang memiliki tim reserve (di bawah tim senior, di atas tim junior). Tim Tunas Jogja, tim reserve tersebut, saat ini menghuni Divisi 2.

Setelah bercengkerama dengan Pak Suheri, saya gantian bertanya kepada manajer tim, Pak Ananto. Ketika saya tanya mengenai pertandingan dengan Bonansa, Pak Ananto mengungkapkan kepuasannya. "Kita seharusnya melawan Bonansa di laga final", ungkapnya. Beliau mengakui bahwa cuaca terik dan faktor kelelahan membuat para pemain mudah lepas kontrol. Satu ungkapan dari beliau yang menurut saya cukup membekas, "Orang bola itu gila (dengan memiringkan jari telunjuk di dekat dahi), mereka rela meninggalkan anak dan istri di rumah untuk seharian di lapangan, dengan tidak banyak menjanjikan banyak uang".

Para pemain Bonansa di bangku cadangan.

Tendangan bebas.
Penalti yang menghujam tiang gawang menggagalkan kesempatan Bonansa menyamakan kedudukan.

Jabat tangan dengan tim lawan pasca pertandingan sebagai wujud fairplay.

Babak Delapan Besar
SSB SSS Semarang (Putih) vs  SSB Djarum Kudus (Hijau)
0-0 (3-5)

Pada posting sebelumnya, SSB SSS Semarang harus tunduk dengan tim asal Sukoharjo, Jatayu Watukelir. Namun, walaupun kalah 0-1, pada akhirnya SSB SSS mampu lolos ke babak delapan besar. Berbeda dengan pertandingan ini, kekalahan kedua SSB SSS ini memupuskan harapan tim asal Semarang tersebut. Pada waktu normal, kedua tim gagal menciptakan satupun gol dan pertandingan akhirnya diselesaikan dengan adu penalti.

Nahas, penendang pertama SSB tertua di Semarang ini gagal membuka harapan rekan-rekannya. Sebaliknya, penendang SSB Djarum Kudus berhasil menjalankan tugas prestisiusnya. Satu tangan SSB Djarum Kudus sudah di semi final setelah penendang keempat SSB SSS kembali mengulang kegagalan.

Pemain cadangan SSB SSS menunggu di kursi.
Algojo yang gagal.
Kemenangan SSB Djarum Kudus dan pelatih SSB SS yang kecewa.


Babak Semi Final
Diklat PSIM (Putih) vs  SSB Djarum Kudus (Hitam)
1-2

Setelah sebelumnya SSB Bhaladika membabat SSB Bintang Mas Sukoharjo 4-1, laga semi final dilanjutkan dengan laga Diklat PSIM melawan SSB Djarum Kudus. Walaupun tim Diklat PSIM cukup tangguh sewaktu mengalahkan tim tuan rumah, namun pada laga ini performanya jauh menurun. Bahkan, oleh sebab kelengahan kipernya, tim Diklat PSIM tertinggal melalui tendangan bebas dari jarak yang cukup jauh. Pada pertengahan pertandingan, langit mulai gelap dan petir yang menyambar menjadikan para pemain sempat ketakutan. Tidak begitu lama hujan mulai mengguyur, Tim Djarum Kudus menggandakan keunggulan setelah memanfaatkan kemelut di depan gawang. Pada akhir babak kedua, gol penggembira Diklat PSIM gagal menyelamatkan timnya dari kekalahan dan mengikuti laga perebutan tempat ketiga.

Hujan deras yang mengguyur laga ini memaksa Pak Suheri Marjio dari Diklat PSIM untuk memakai jas hujan.

Perebutan Tempat Ketiga
SSB Bintang Mas (Hijau) vs  Diklat PSIM (Merah)
0-1

Gagalnya SSB Bintang Mas dan Diklat PSIM menembus final menjadikan keduanya bertemu pada laga perebutan tempat ketiga. Pertandingan terpaksa dipindah ke Lapangan Yonif 413 setelah Stadion UNS tidak layak digunakan setelah terguyur hujan. Pada pertandingan ini, Diklat PSIM Jogja menemukan pola permainannya kembali dengan berkali-kali menguasai bola. Sebuah gol semata wayang dari Diklat PSIM menjadikan tim tersebut menempati juara ketiga. Selebrasi pemain Diklat PSIM cukup unik, karena ia "mengajak" rekannya untuk duduk bersila seraya bermain kartu.

Saat berdiri di barat daya lapangan, saya tertarik oleh ulah bocah-bocah sekitar yang menonton pertandingan tersebut. Ada seorang bocah berkepala gundul yang sejak awal hingga akhir pertandingan tidak henti-hentinya mengkomentatori laga tersebut layaknya liga papan atas nasional. "Bola dioper kepada nomor 10, ooouu... kurang cermat, bola berhasil direbut lawan", kurang lebih seperti itulah aksi bocah tersebut menirukan komentator bola.

Pemain Diklat PSIM melewati pemain belakang lawan.
Tendangan bebas umpan menuju kotak penalti.
Ditonton anak-anak sekitar, bocah yang memakai jaket itulah yang saya maksud di atas.


Babak Final
SSB Bhaladika (Putih) vs  SSB Djarum Kudus (Kuning)
3-0

Bagi SSB Bhaladika, keberhasilan mereka mencapai final diiringi dengan kemenangan dengan marjin gol yang cukup banyak. Sebelumnya membabat SSB Pandanaran Boyolali dengan skor 5-2, SSB Bhaladika menunjukkan tajamnya lini depan dengan skor 4-1 melawan SSB Bintang Mas. Namun, ketika babak pertama dimulai, SSB Djarum Kudus dikagetkan dengan gol cepat SSB yang memiliki karakter bermain penuh energi. SSB Djarum sulit mengembangkan permainan hingga dua gol tambahan kembali bersarang. Fantastis, SSB Bhaladika mencetak rentetan kemenangan dengan marjin gol lebih dari 2.

Pada saat pertandingan berlangsung, saya sempatkan diri untuk berbicara ngalor ngidul dengan sekumpulan pendukung dan orang tua pemain SSB Bhaladika, salah satunya Pak Nurhadi. Bagi turnamen di kota Solo, SSB Bhaladika merupakan wajah baru. Menurut bapak yang berlatar belakang militer ini, di Semarang SSB Bhaladika sudah memiliki nama, walaupun terbentuk sekitar tahun 2005. SSB Bhaladika memiliki tempat latihan di Lapangan Arhanudse 15 di sekitar Jatingaleh. Dari salah satu orang tua pemain, saya dikenalkan dengan Pak Warno, yang anaknya bermain cemerlang di turnamen tersebut. Septian David Mulyana, pada turnamen tersebut mencatatkan diri sebagai pencetak gol terbanyak. Di koran Suara Merdeka versi online, pemain tersebut kerap muncul dengan nama David. Patut kita tunggu, apakah 5 tahun atau 10 tahun pemain berbakat tersebut bermain di kompetisi nasional.

Tim SSB Bhaladika berfoto sebelum pertandingan.
Gol pertama SSB Bhaladika menghujam gawang.
Selebrasi gol pertama.
SSB Djarum Kudus yang terus digempur.
Para pemain SSB Djarum Kudus.
Penyerahan piala dan hadiah kejuaraan disaksikan ketua penyelenggara, Drs. Mamin Suparmin, M.Kes.
Selamat untuk kemenangan SSB Bhaladika.


Lebih lanjut mengenai berita sepakbola usia dini. Cek ini..



Cek di sini..

Leave a Reply