Abstractive Sense

Tim Ksatria (putih) dan Tim Putra Berlian (rompi biru)

Sekitar pukul 11.00 WIB, pertandingan turnamen Pandan Arang Cup, kembali dilanjutkan. Di Stadion Pandan Arang, dua tim melakukan pemanasan dan briefing menjelang pertandingan. Satu tim berbaju putih (Ksatria Solo), satu tim lagi berbaju mirip timnas Argentina (Putra Berlian). Karena kedua kostum yang hampir mirip, maka pemain tim Putra Berlian menggunakan rompi berwarna biru.

Saat itu pula, saya mendatangi bench tim Ksatria Solo, sembari mengamati persiapan tim, saya sempat bercengkerama dengan beberapa ofisial di sana. Uniknya, saya sempat dikira seorang wartawan salah satu koran lokal Solo. Dari pembicaraan itu, akhirnya saya jadi tahu, bahwa pelatihnya bernama Abdul Hafid Djamado. Seorang pelatih yang merupakan mantan pemain ini pernah menukangi tim kebanggan Kota Solo, yakni Persis Solo dan Arseto Solo.

Beberapa menit kemudian, pertandingan dimulai, di depan para suporternya, kedua tim tidak mau kalah. Terutama di awal babak pertama, tim Ksatria Solo masih bisa mengimbangi permainan agresif tim Putra Berlian. Tidak jarang, tim berkostum putih ini mendapatkan kesempatan tendangan bebas tidak jauh dari gawang Putra Berlian.

Namun, terjadi perubahan yang cukup signifikan semenjak seorang pemain SSB Ksatria Solo bernomor punggung 11 dilanggar keras oleh salah satu pemain lawan. Walaupun cukup kesakitan hingga mendapatkan pertolongan ofisial, namun pemain tersebut tetap melanjutkan pertandingan. Sejak pelanggaran ini, dari tribun, para suporter dari Solo mulai 'ramai'.

Tidak lama setelah itu, Putra Berlian mampu mencetak gol pertamanya dengan memanfaatkan tendangan bebas. Bola yang dilambungkan melewati pagar betis sempat memantul di tanah, dan ternyata kiper gagal menyelamatkan gawang dari kebobolan. Para pemain Putra Berlian berlarian menuju pinggir lapangan dengan selebrasi 'sujud'.

Sekitar 5 menit sebelum turun minum, tim Ksatria Solo seakan berada di jalan terjal semenjak tercipta gol kedua setelah memanfaatkan kemelut di depan gawang. Hal ini diperparah dengan pelanggaran keras tim lawan terhadap pemain yang sama, nomor punggung 11. Bahkan, pemain ini sampai harus ditandu keluar lapangan dan tidak bisa melanjutkan pertandingan. Pelanggaran keras inilah yang memicu memanasnya kondisi, hingga suporter asal Solo berkali-kali meneriaki salah seorang pemain tim lawan, paling parah ketika babak pertama usai.

Sekitar pukul 11.39 WIB, babak kedua dimulai, Tim Ksatria Solo pada babak ini bermain lebih menyerang. Berkali-kali para penyerang tim Ksatria dengan kecepatan yang dimiliki mampu meloloskan diri dari kawalan pemain belakang lawan.

Pada 15 menit babak kedua, terdapat seorang pemain yang dimasukkan oleh coach Djamado cukup menyita perhatian penonton. Dialah Marvel Fu, seorang pemain yang dari kejauhan mirip Kim Jeffrey Kurniawan dan ternyata sangat mengidolakan pemain Persema Malang tersebut. Saya sendiri tahu namanya juga dari grup facebook Ksatria Solo, ketika ia berkomentar di wall. :)

Namun, sering tercipta peluang yang mengarah ke gawang, tidak ada satupun yang terkonversi menjadi gol. Malahan, menjelang pertandingan usai, dirasa mustahil bagi tim Ksatria Solo untuk membalikkan keadaan setelah tim Putra Berlian mencetak gol tambahan.

Peregangan otot.

Sesi pemanasan.
Coach Djamado dan para Ksatria. Nomor 3 adalah kapten tim.

Sebelum kick-off.

Adib (8), ketika mengambil tendangan bebas.

Libero sekaligus kapten tim yang mengambil tendangan bebas.

Melenceng di sisi gawang.

Tendangan penjuru.

Tiga bocah yang mengamati jalannya pertandingan.

Coach Djamado mendatangi pemain nomor 11 yang ditandu keluar lapangan.

Kiper tim Ksatria.

Mendapatkan pengarahan saat turun minum.

Peluang emas, one on one.

Marvel Fu dimasukkan.
Dari dekat pengagum Kim Kurniawan tersebut.

Gol ketiga.

Evaluasi pasca pertandingan.

Setelah sebelumnya tim asal Sukoharjo dibekuk SSB Putra Berlian Semarang, kini giliran Ksatria Solo yang dipaksa takluk. SSB Putra Berlian mampu memanfaatkan keunggulan fisik sekaligus teknik untuk menyarangkan tiga gol ke gawang Ksatria Solo. Selanjutnya SSB Putra Berlian melenggang ke final untuk menghadapi PSB Bonansa UNS Solo. Setidaknya, ini bukan akhir dari SSB Ksatria Solo, selama para pemain masih memiliki mimpi, seperti Marvel Fu yang ingin menjadi "Next Kim Kurniawan". :)

Lebih lanjut mengenai berita sepakbola usia dini. Cek ini..



Cek di sini..

Leave a Reply