Abstractive Sense

Tugu Manahan, Pasoepati, dan mobil Bung Kesit

Matur nuwun diambil dari bahasa Jawa, bahasa mayoritas orang Solo yang diartikan "terima kasih". Sebagai warga Solo, saya sangat berterima kasih atas kemenangan Solo FC kemarin. Lalu, kenapa ucapan terima kasih ditambahkan kepada Branko Babic, sang pelatih, dan Serge, pemain belakang Solo FC? Itu ada ceritanya sendiri. :)

Setelah pertandingan Sabtu lalu, 29 Januari 2011, Solo FC memastikan kemenangan 3-1, sebagian penonton meninggalkan stadion. Namun, sebagian lagi memilih turun dari tribun menuju lapangan untuk sekedar berfoto ria. Nah, itulah yang menginspirasi teman-teman ASI (Asosiasi Suporter Indonesia) yang saya temui saat half-time, untuk ikut menjejakkan kaki ke lapangan. Karena empat orang sudah turun, pada akhirnya, saya pun juga ikut turun ke lapangan. Keempatnya adalah Sinyo, Hemo, Indra Dendi, dan Wisnu.
Sempat berfoto-foto, saya yang motret, inilah resiko pegang kamera. -_-"

Pak Polisi memukul-mukul pentungan ke pahanya, secara komunikasi non-verbal mengindikasikan agar para penonton meninggalkan lapangan atau.....

Pertandingan sudah berakhir, namun tetap saja masih ada oknum pembuat ulah yang memaksa polisi mendatangi tribun.
Seharusnya, inilah yang harus disadari semua elemen suporter di Indonesia, agar lebih tertib di stadion, baik sebelum, saat, dan setelah pertandingan. Lanjut lagi, langsung saja kami berlima melanjutkan perjalanan menuju ruang ganti pemain Solo FC. Awalnya sih masih takut-takut untuk masuk, hanya melihat dari jendela. Saat sibuk memotret, ternyata yang lain malah sudah masuk.
Suporter yang menigintip dari jendela.

Suasana Ruang Ganti Atlet, terlihat Vrteski dan David Micevski sangat ramah ketika diajak bercengkerama dan foto bareng.
Bukan hanya kami yang ada di sini, namun banyak sekali orang yang berkeinginan mencari pemain Solo FC. Di sini kami sempat bertemu kiper Alex Vrteski dan playmaker David Micevski yang menjadi sasaran foto bareng para fans. Ketika sehabis ganti pakaian, para pemain dan staf Solo FC keluar menuju lorong keluar, termasuk Serge Litvinov dan Bung Kesit Handoyo. Sungguh unik, Serge Litvinov sempat mengucapkan kata "matur nuwun" kepada kami. Dengan inisiatifnya, Hemo memanggil Serge untuk diajak foto bareng dan pemain asal Rusia itu tidak menolaknya. Jika dahulu saat Solo FC melawan UNS, saya hanya memotretnya dari kejauhan, saat ini cukup dekat dan menyadari keramahannya.
Alex Vrteski (kanan) diajak foto bareng oleh ibu-ibu.

Alex Vrteski (paling kiri), David Micevski, dan Bung Kesit.

Dasar si Indra, ini Serge malah tertutup spanduknya.

Dari kiri: saya, Indra, Serge, Hemo, dan Sinyo.

Setelah berfoto dengan Serge, kami langsung keluar dari ruang ganti pemain. Di sini kami malah bertemu langsung dengan sang pelatih, Branko Babic. Seperti sebelumnya dengan Serge, pelatih yang sempat menangani klub OFK Beogard ini tidak menolak ketika kami ajak foto bareng. Dari luar terlihat sebagai pelatih yang disiplin dan keras, ternyata Babic sangat ramah dengan suporter.
Dari kiri: Hemo, Wisnu, Babic, Dendi, Sinyo
Bersama Branko Babic

Sebenarnya, kami sempat memergoki para pemain Bandung FC yang melintasi tempat kami bertemu Babic. Namun, terlihat mereka sedang terpukul akibat kekalahan sore itu.
Terlihat pemain Bandung FC asal Korea, Kim Sang Duk, melintas menuju pintu.
Bus yang mengangkut para pemain Bandung FC.
Itulah pengalaman saya saat menonton pertandingan Solo FC langsung di stadion. Sempat bercengkerama dengan teman-teman ASI hingga maghrib, selanjutnya saya pulang membawa cerita. Bukan hanya beradaptasi di rumput Stadion Manahan dan Stadion Sriwedari, namun para pemain asing Solo FC juga sudah beradaptasi dengan keramahan warga Solo. Branko Babic, Serge, David Micevski, Alex Vrteski telah menunjukkan itu, sedangkan saya belum bertemu Zarko Lasetic dan Steven Racic. Namun, poin tersendiri saya berikan untuk Branko Babic dan Serge yang pada saat itu kami ajak foto bareng. :)


Lebih lanjut mengenai berita sepakbola usia dini. Cek ini..



Cek di sini..

9 Responses so far.

  1. daerah saya PSBI, di devisi utama.

  2. Andy MSE says:

    ceritanya panjang, asyik, dan menarik... tapi saya memilih tidak berkomentar soal ceritanya melainkan berpendapat sendiri soal LPI-nya...
    biarpun menurut petinggi PSSI sekarang LPI dikatakan kompetisi hiburan, bagi saya pribadi justru itu yg bener2 profesional, salah satu tolok ukurnya adalah kemandirian... saya senang sekali dengan kompetisi yang tidak nyedot anggaran negara ini...
    Bravo Solo FC!!!...

  3. andika says:

    Kurnia Septa: Oh, dari Blitar ya, divisi utama sih ga masalah, asal permainannya menghibur dan memberikan manfaat untuk pengembangan pemain muda asli Blitar.

  4. andika says:

    Bung Andy: Saya sering nanya pendapat ke orang-orang yang tertarik dengan sepakbola, sebagian malahan pelaku sepakbola mengenai LPI. Sebenarnya kebanyakan dari mereka mengapresiasi konsep yang ditawarkan LPI, namun apa daya, untuk berubah memang perlu waktu dan usaha, di antara gelombang penolakan dan bahkan ancaman dari berbagai pihak. Kita ikuti saja kelanjutannya. Semoga Solo FC menjadi tim kebanggaan warga Solo.

  5. mas, mau jadi jurnalis olahraga kah?

  6. andika says:

    Winda: Hahaha. Ga tahu nih putaran hidup membawa aku ke mana. Tapi sebenarnya tertarik juga, terutama sepakbola.hehe

  7. cafe says:

    supporter yyang penting jangan anarkis aja

Leave a Reply