Abstractive Sense

Walaupun tarkam, tapi juga disaksikan banyak penonton
Beberapa waktu yang lalu, ada seorang tokoh nasional yang menyebut kata tarkam untuk mengasosiasikan kompetisi tertentu. Seolah-olah tarkam merupakan titik nadir dari dunia persepakbolaan nasional. Inilah beberapa poin dari tarkam yang saya tahu.

1. Sepakbola tarkam (antar kampung) mempertemukan dua tim yang berasal dari dua desa.

2. Para pemain akan bermain "all out" untuk memberikan kemenangan untuk kampung mereka. Harga diri kampung dipertaruhkan, bak tim nasional skala kecil.

3. Walaupun tarkam, semua pemain menggunakan kostumnya masing-masing, bukan baju bebas.

4. Faktor uang tidak menjadi tujuan utama.

5. Walaupu tarkam, tapi tetap ada wasit. Bukankah cukup "profesional"?

6. Ada lima tipe penonton, dua tipe awal yakni suporter salah satu tim yang biasanya berasal dari daerah bersangkutan. Ketiga adalah Warga sekitar yang sekedar mencari hiburan. Keempat, terkadang ada pemain dari daerah lain yang datang ke lapangan untuk mengamati permainan salah satu tim yang akan menjadi calon lawan. Kelima, anak-anak yang bermain bola di sepetak lahan di luar lapangan yang digunakan untuk bertanding. Tarkam seolah menjadi ruang berkumpulnya masyarakat.

7. Saya pernah menemui seorang anak belasan tahun, dimasukkan di akhir-akhir pertandingan. Padahal, hampir sebagian besar pemain adalah para remaja dan dewasa. Tarkam bisa menjadi ajang penggemblengan bagi para pemain-pemain muda yang tidak ikut SSB.

Jadi, dengan ucapan yang cenderung "menyepelekan" tarkam, bagaimana cara mereka peduli terhadap sepakbola akar rumput? Padahal, sepakbola seperti sudah membudaya di setiap sendi-sendi rakyat Indonesia. Jika perlu, pemerintah mampu mengadakan kompetisi untuk mereka,  sekaligus jadi ajang untuk pencarian pemain. CMIIW.


Lebih lanjut mengenai berita sepakbola usia dini. Cek ini..



Cek di sini..

Leave a Reply