Abstractive Sense


Sempat tertinggal dari tim tamu Bandung FC, setelah turun minum, secara dramatis tim Kesatria XI Solo FC berhasil membalikkan keadaan. Pertandingan lanjutan kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) yang digelar di Stadion Manahan pada Sabtu, 29 Januari 2011 lalu, disaksikan ribuan Pasoepati yang memadati setiap tribun. Tentu hasil positif ini mampu memberi penghapus dahaga akan prestasi publik gila bola asal Solo.

Sejak kick-off, kedua tim memilih opsi penyerangan. Namun, mendekati akhir babak pertama, Bandung FC mulai mampu mengurung pertahanan Solo FC. Alhasil, tepat sebelum turun minum, publik Stadion Manahan justru terhenyak oleh gol Javad Moradi yang mampu menaklukkan kiper Alexander Vrteski. Setelah gol ini, sebagian Pasoepati pesimis Solo FC mampu membalikkan keadaan, terbukti dengan adanya nyanyian-nyanyian bernada kecewa.

Selebrasi Kurnia Sandy (kuning) dan "sujud" pemain belakang Bandung FC saat tercipta gol pertama.
Pada babak kedua, tidak mau mengecewakan dukungan para suporter, tim asuhan Branko Babic semakin keluar menyerang. Pemain tengah Solo FC, David Micevski, pertandingan tersebut tampil sebagai kreator serangan. Hampir sebagian besar permainan Solo FC dimulai dari pemain asal Negeri Kanguru itu.
Pertarungan bola atas di kotak penalti Solo FC
Bukan hanya Micevski, kredit tersendiri patut diberikan kepada penyerang asal Serbia, Steven Racic. Pergerakan pemain yang memiliki tinggi badan di atas rata-rata inilah yang membuat pemain Bandung FC melanggarnya, berujung diberikannya tendangan penalti oleh wasit. Saat inilah, walaupun belum dieksekusi, seluruh stadion kembali bergemuruh, para penonton berdiri dan berjingkrak-jingkrak, seolah-olah skor sudah 1-1.
Ketika Solo FC mendapatkan penalti, amati anak kecil yang memakai baju timnas, ia terlihat sangat kegirangan.
Tanggung jawab besar berada di pundak David Micevski, ketika menjadi eksekutor penalti tersebut. Oleh Micevski, bola ditendang keras menuju sisi kanan gawang Kurnia Sandy. Pilihan Micevski sekaligus membuat kiper yang pernah menimba ilmu di Italia ini salah menebak datangnya bola.
Gooool. Micevski memperdaya Kurnia Sandy
Solo FC menyamakan kedudukan, dan asa kembali muncul. Saat inilah, kembang api dinyalakan di beberapa bagian stadion. Di tribun yang saya dan teman-teman ASI tempati, tribun timur bagian tengah, kembang api dinyalakan tetap di depan kami. Sontak, sebagian besar penonton menutup hidung ketika asap kembang melewati mereka.
Bukan bermaksud bergaya seperti Kakashi-nya Naruto, tapi untuk menghindari asap kembang api

Inilah kembang api simbol perayaan gol, sekaligus yang membuat penonton di belakang terdiam sejenak
Setelah skor imbang, permainan Bandung FC tidak lagi seefektif babak pertama. Di sisi lain, Solo FC semakin bersemangat membalikkan keadaan.
Seorang pemain Bandung FC yang sempat melayangkan protes
Pada pertengahan babak kedua, skor menjadi 2-1 untuk keunggulan Solo FC melalui gol yang agak aneh. Ada yang menganggap gol tersebut dicetak oleh penyerang Stevan Racic, namun ada sebagian lain yang meyakini gol itu sebagai gol bunuh diri defender Bandung FC. Seperti kata seorang penonton di samping saya, menurutnya dari kejauhan terlihat kalau gol tersebut merupakan hasil "sundulan" dari pemain lawan. Bagi Pasoepati, siapa pencetak gol mungkin tidak perlu diperdebatkan selama gol itu sah.
Gol kedua, gol Racic atau gol bunuh diri?
Dalam kondisi unggul, kedisiplinan wasit Liga Primer Indonesia kembali memakan korban. Kali ini, pemain nomor punggung 7 asal Solo FC, Edy, harus meninggalkan lapangan lebih dulu setelah mendapat kartu merah.
Seorang pemain terkapar, wasit mendatangi Edy (7) untuk memberikan kartu merah
Hanya dengan sepuluh pemain, tim Solo FC tidak memberi kesempatan Bandung FC menyamakan kedudukan. Bahkan, pada sepuluh menit terakhir, Solo FC justru mampu memperlebar jarak kemenangan melalui gol Stevan Racic.
Gol ketiga Solo FC
Menjelang berakhirnya pertandingan, sempat terjadi keributan, aparat langsung mendatangi tribun selatan dengan menaiki tangga untuk mengejar pemicu keributan. Uniknya, mengetahui itu, para penonton menyoraki suporter tersebut dengan ungkapan "kampungan".
Pemain Solo FC mempertahankan bola dari marking lawan, terlihat dari kejauhan aparat yang menaiki tangga menuju tribun selatan
Wasit meniup peluit panjang, Solo FC mendapatkan tiga poin untuk bersaing di papan atas klasemen Liga Primer Indonesia.
Pemain Solo FC memberi applaus ucapan terima kasih kepada suporter, di sisi lain pemain Bandung FC meninggalkan lapangan
Lebih lanjut mengenai berita sepakbola usia dini. Cek ini..



Cek di sini..

8 Responses so far.

  1. Anonim says:

    nice post
    lanjutkan

  2. andika says:

    Wah, terima kasih.

  3. Kimi says:

    Seneng deh rasanya kalau baca hal positif seperti ini. Stadion rame, penontonnya tertib, pemain sportif, wasitnya bagus (eh, wasitnya bagus kan ya?). Kalau seperti ini terus, saya semakin yakin sepak bola kita masa depannya cerah. Semoga! :D

  4. andika says:

    Kimi: Kalau stadion rame iya, pemain sportif iya, wasitnya lumayan, tapi kalau penontonnya masih perlu diperbaiki. Sempat ada keributan, padahal sama-sama mendukung tim yang sama. Tapi semoga saja LPI ini membawa perubahan besar. Thanks atas kunjungan baliknya.:)

  5. adetruna^ says:

    wiiih langit nampak cerah, seolah² mendukung kemenangan tim lawan: Solo FC (karena aku dari Bandung)...

    Sekali lagi selamat atas kemenangan dan kemeriahan saat kemarin, mas.

    "maju terus persepakbolaan tanah air!"

  6. andika says:

    Cukup beruntung kemarin waktu main ga hujan. Jadinya lapangan hijau dan kelihatan cukup sempurna. Meriah banget.

    Setelah ada Lee Hendrie di Bandung FC, Solo FC perlu kerja keras besok saat pertandingan tandang. Kemarin aja sempat terseok-seok awalnya.:)

  7. cinta si says:

    yuk teman'' main poker online di www.royalflush99.com

  8. dumb says:

    mangstab kang semoga senang dan persis solo maju haha

Leave a Reply