Abstractive Sense

Rabu sore, tanggal 19 Januari 2011, perjalanan saya terhenti pada sebuah lapangan sepakbola yang cukup dikenal warga Solo, khususnya warga Kartopuran. Lapangan Kartopuran, terletak tidak jauh dari jalur pusat stempel di Solo, sore itu digunakan untuk menggelar pertandingan sepak bola.

Di sekeliling pagar lapangan juga dapat ditemukan puluhan warga yang menyempatkan diri untuk menyaksikan pertandingan tersebut. Saat itulah saya bertemu dengan seorang bapak paruh baya yang tiba di lapangan dengan sepedanya. Singkat cerita, saya terlibat pembicaraan dengan bapak yang saya sendiri lupa menanyakan namanya.

Dari penjelasan beliau, tim yang berada di atas lapangan merupakan tim yang sengaja dibentuk berisikan warga sekitar yang sudah berumur. Salah satu tujuannya yakni untuk berolahraga dan mencari keringat. Dengan menggunakan rompi kuning dan oranye, tim tersebut dibagi menjadi dua.

Serangan dari sayap, bersiap-siap melepaskan umpan.
Umpan jauh.
Gerak tipu memperdaya pemain belakang pemain lawan.
Alangkah kagetnya, ketika beliau bercerita bahwa sebagian dari 22 pemain tersebut merupakan eks pemain Persis Solo era 90-an. Salah satunya "Wewe" (kurang jelas ejaannya), yang pada pertandingan tersebut memakai rompi oranye dan kaos kaki hijau. Menurut beliau, pemain yang masih keturunan Tionghoa tersebut dulunya adalah pemain yang cukup bagus. Bukan hanya itu, sebenarnya masih ada satu pemain lagi yang menurutnya dulu cukup beringas, namun beliau lupa namanya. Dua pemain tersebut dulunya adalah pemain yang bagus dan terkenal, terutama di Solo, kurang lebih menurut bapak tersebut. Bahkan, beliau juga membuka memori lama Persis Solo sebagai klub yang cukup disegani pada era tersebut. Entah benar atau tidak, yang jelas saya kurang tahu menahu sejarah Persis Solo di masa lalu.

Inilah pemain yang menurut bapak tersebut bernama Wewe.
Paling kiri yang menghadap bola, juga eks pemain Persis Solo yang dulunya cukup beringas.

Sejak awal, di ujung lapangan telah siap sekumpulan remaja yang melakukan pemanasan. Sekitar pukul 16.30, pertandingan bapak-bapak tersebut usai dan para remaja mendapat giliran memakai lapangan, begitu pula rompi yang dikenakan.

Bertukar rompi dan giliran lapangan.

 Selain itu, di belakang gawang, tiga orang bocah memetak sebagian kecil lapangan untuk tempat menggelinding bola plastik yang mereka bawa.


Tiga bocah bermain bola.
Model semarangan alias kiper dan gawangnya satu, dua penyerang saling berebut bola untuk ditendang ke gawang.

2 Responses so far.

  1. Anonim says:

    sejarah Persis Solo, sebagian ada disini
    http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6701521

  2. andika says:

    Wah, terima kasih, Bro. Saya bukan kaskuser, tapi pembaca kaskus setia.hehe

Leave a Reply