Abstractive Sense


Selain tercipta gol, stadion selalu menampilkan keunikan-keunikan lain yang dihadirkan oleh ribuan manusia dengan berbagai latar belakang dan karakter. Begitupula pada pertandingan antara Solo FC dan Bandung FC yang berkesudahan 3-1 untuk kemenangan tim tuan rumah.

Saya bisa masuk ke dalam stadion itu saja cukup beruntung, karena saya sampai stadion saja sudah lebih dari pukul 15.00 WIB. Tiket sudah habis, hanya tersisa yang VIP, akhirnya saya bertemu dengan seorang calo yang menawarkan tiket termurah dengan harga Rp 17.000. Menurut ilmu matematika, calo tersebut hanya mencari keuntungan Rp 2.000, jadi bagi saya tidak masalah.


Setelah mendapat tiket, saya bergegas masuk ke stadion, inilah kondisi tribun.

Satu kata untuk menggambarkan suasana tribun selatan, Padat! Ini masih awal, semakin waktu berjalan, semakin banyak penonton yang masuk.

Dari tribun selatan, setiap suporter bisa duduk di mana-mana.

Kurang afdol jika dalam stadion tidak ada spanduk yang berisi pesan-pesan. Saya memilih no comment mengenai maksud dari pesan yang dikomunikasikan.

Seorang steward dan botol air minum, pada pertengahan pertandingan, air minum itu dilemparkan ke penonton yang meminta, cukup dermawan juga.

Di dalam penuh, bukan berarti di luar kosong melompong. Para pendukung yang tidak mendapat tiket memilih menonton dari sela-sela gerbang.

Memang, tidak setiap orang menyukai sepakbola. Seperti bapak-bapak ini, walaupun sama-sama berada di kompleks Manahan, tapi beliau memilih bermain tenis.

Suasana tribun timur bagian tengah yang sama-sama padat. Ada adik-adik pendukung timnas juga lho... (Gonzales 9)

Tidak ada sepakbola, bisbol pun jadi. Inilah yang dilakukan sebagian penonton yang tidak kebagian tiket.

Suasana tribun utara, tribun khusus Pasoepati, amati saja aparat pengamanan bertameng yang berjaga di bawah.

Bendera Pasoepati Jatenisti. Hmmm.. Bahasa Italia, kalau saya terjemahkan Pasoepati dari Kecamatan Jaten. :)


Lebih lanjut mengenai berita sepakbola usia dini. Cek ini..



Cek di sini..
Read More …


Sempat tertinggal dari tim tamu Bandung FC, setelah turun minum, secara dramatis tim Kesatria XI Solo FC berhasil membalikkan keadaan. Pertandingan lanjutan kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) yang digelar di Stadion Manahan pada Sabtu, 29 Januari 2011 lalu, disaksikan ribuan Pasoepati yang memadati setiap tribun. Tentu hasil positif ini mampu memberi penghapus dahaga akan prestasi publik gila bola asal Solo.

Sejak kick-off, kedua tim memilih opsi penyerangan. Namun, mendekati akhir babak pertama, Bandung FC mulai mampu mengurung pertahanan Solo FC. Alhasil, tepat sebelum turun minum, publik Stadion Manahan justru terhenyak oleh gol Javad Moradi yang mampu menaklukkan kiper Alexander Vrteski. Setelah gol ini, sebagian Pasoepati pesimis Solo FC mampu membalikkan keadaan, terbukti dengan adanya nyanyian-nyanyian bernada kecewa.

Selebrasi Kurnia Sandy (kuning) dan "sujud" pemain belakang Bandung FC saat tercipta gol pertama.
Pada babak kedua, tidak mau mengecewakan dukungan para suporter, tim asuhan Branko Babic semakin keluar menyerang. Pemain tengah Solo FC, David Micevski, pertandingan tersebut tampil sebagai kreator serangan. Hampir sebagian besar permainan Solo FC dimulai dari pemain asal Negeri Kanguru itu.
Pertarungan bola atas di kotak penalti Solo FC
Bukan hanya Micevski, kredit tersendiri patut diberikan kepada penyerang asal Serbia, Steven Racic. Pergerakan pemain yang memiliki tinggi badan di atas rata-rata inilah yang membuat pemain Bandung FC melanggarnya, berujung diberikannya tendangan penalti oleh wasit. Saat inilah, walaupun belum dieksekusi, seluruh stadion kembali bergemuruh, para penonton berdiri dan berjingkrak-jingkrak, seolah-olah skor sudah 1-1.
Ketika Solo FC mendapatkan penalti, amati anak kecil yang memakai baju timnas, ia terlihat sangat kegirangan.
Tanggung jawab besar berada di pundak David Micevski, ketika menjadi eksekutor penalti tersebut. Oleh Micevski, bola ditendang keras menuju sisi kanan gawang Kurnia Sandy. Pilihan Micevski sekaligus membuat kiper yang pernah menimba ilmu di Italia ini salah menebak datangnya bola.
Gooool. Micevski memperdaya Kurnia Sandy
Solo FC menyamakan kedudukan, dan asa kembali muncul. Saat inilah, kembang api dinyalakan di beberapa bagian stadion. Di tribun yang saya dan teman-teman ASI tempati, tribun timur bagian tengah, kembang api dinyalakan tetap di depan kami. Sontak, sebagian besar penonton menutup hidung ketika asap kembang melewati mereka.
Bukan bermaksud bergaya seperti Kakashi-nya Naruto, tapi untuk menghindari asap kembang api

Inilah kembang api simbol perayaan gol, sekaligus yang membuat penonton di belakang terdiam sejenak
Setelah skor imbang, permainan Bandung FC tidak lagi seefektif babak pertama. Di sisi lain, Solo FC semakin bersemangat membalikkan keadaan.
Seorang pemain Bandung FC yang sempat melayangkan protes
Pada pertengahan babak kedua, skor menjadi 2-1 untuk keunggulan Solo FC melalui gol yang agak aneh. Ada yang menganggap gol tersebut dicetak oleh penyerang Stevan Racic, namun ada sebagian lain yang meyakini gol itu sebagai gol bunuh diri defender Bandung FC. Seperti kata seorang penonton di samping saya, menurutnya dari kejauhan terlihat kalau gol tersebut merupakan hasil "sundulan" dari pemain lawan. Bagi Pasoepati, siapa pencetak gol mungkin tidak perlu diperdebatkan selama gol itu sah.
Gol kedua, gol Racic atau gol bunuh diri?
Dalam kondisi unggul, kedisiplinan wasit Liga Primer Indonesia kembali memakan korban. Kali ini, pemain nomor punggung 7 asal Solo FC, Edy, harus meninggalkan lapangan lebih dulu setelah mendapat kartu merah.
Seorang pemain terkapar, wasit mendatangi Edy (7) untuk memberikan kartu merah
Hanya dengan sepuluh pemain, tim Solo FC tidak memberi kesempatan Bandung FC menyamakan kedudukan. Bahkan, pada sepuluh menit terakhir, Solo FC justru mampu memperlebar jarak kemenangan melalui gol Stevan Racic.
Gol ketiga Solo FC
Menjelang berakhirnya pertandingan, sempat terjadi keributan, aparat langsung mendatangi tribun selatan dengan menaiki tangga untuk mengejar pemicu keributan. Uniknya, mengetahui itu, para penonton menyoraki suporter tersebut dengan ungkapan "kampungan".
Pemain Solo FC mempertahankan bola dari marking lawan, terlihat dari kejauhan aparat yang menaiki tangga menuju tribun selatan
Wasit meniup peluit panjang, Solo FC mendapatkan tiga poin untuk bersaing di papan atas klasemen Liga Primer Indonesia.
Pemain Solo FC memberi applaus ucapan terima kasih kepada suporter, di sisi lain pemain Bandung FC meninggalkan lapangan
Lebih lanjut mengenai berita sepakbola usia dini. Cek ini..



Cek di sini..
Read More …


Seorang bocah mengamati rekan-rekan dari atas gawang.

"Melalui rubrik ScoutIDN ini, AbSense akan  menyajikan kumpulan foto bocah-bocah Indonesia yang bermain bola di  lapangan, jalanan, hingga di sepetak lahan sempit. Jadi, salah jika  sepakbola Indonesia hanya identik dengan timnas, atau kompetisi skala  nasional. Masih ada ribuan bocah yang menggandrungi sepakbola, entah  sekedar mengisi waktu luang, bertanding mewakili wilayah, sekolah, SSB, atau tim junior, hingga bercita-cita menjadi pemain profesional. Sepakbola bukan hanya  milik kalangan tertentu, apalagi untuk kepentingan politik, sepakbola  milik seluruh rakyat Indonesia."

Lokasi : Lapangan Jaten.
Deskripsi : Foto diambil Jumat sore pada tanggal 28 Januari 2010. Para siswa SDN 1 Jaten sejak sekitar pukul 15.00 mengikuti latihan sepakbola di bawah instruksi guru olahraga. Dalam satu lapangan digelar dua pertandingan yang kesemuanya diperkuat siswa-siswa SD tersebut.

Sebelum kick-off, baju salah satu tim ditanggalkan, menurut instruksi guru mereka.
Baju dilempar ke pinggir lapangan. Bukan ke dalam gawang lho...
Salah seorang pemain tim "tanpa baju" menggiring bola.
Giringan "Luis Figo" (7). Pada pertandingan ini pemain yang berseragam Portugal ini bermain cukup cemerlang.
Baju Timnas Indonesia di pinggir lapangan. Sebagian besar pemain memakai baju olahraga sekolah bersangkutan.
Bola keluar lapangan.
Mengontrol bola.
Guru memberi instruksi kepada para pemain cara melakukan throw-in (lemparan ke dalam) yang benar.
Seorang bocah menubruk rekannya sebagai wujud selebrasi atas terciptanya gol ketiga ke gawang tim "tanpa baju".
Setelah sekitar tiga gol bersarang ke gawang tim "tanpa baju", guru menginstruksikan pertukaran pemain, terutama kipernya. Sejak pergantian inilah, pertandingan lebih berimbang dan tim "tanpa baju" mampu mencetak gol pertamanya.
Sambil berjalan, seorang bocah memperhatikan jalannya pertandingan.

Ada-ada saja yang dilakukan bocah berbaju biru. Tidak menonton rekan-rekannya bermain, namun justru bergantungan di tiang gawang.
Amati dua bocah di bagian kanan, keduanya sedang terlibat perseteruan. Bocah berbaju garis-garis menanyai bocah yang duduk apakah ia sebelumnya "menantangnya". "Kowe mau nantang aku tho?", tanya bocah yang berdiri, tanpa direspon rekannya yang duduk tersebut. Jadi teringat, sewaktu masih sekolah, masalah kecil saja bisa menjadi masalah yang runyam. Tentunya, opsi utama untuk menyelesaikannya yakni dengan "mengandalkan koneksi", alias mengancam mengadukan kepada pihak yang lebih menangan atau punya kuasa. :)

Faktor pengendalian emosi memang menjadi problematika tersendiri, terutama bagi seseorang yang masih cukup muda. Padahal, tidak jauh dari situlah saya berdiri, namun kondisi tetap memanas.  Mungkin ini salah satu potensi masalah bagi penanganan pesepakbola usia dini.

Lebih lanjut mengenai berita sepakbola usia dini. Cek ini..



Cek di sini..
Read More …

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, tabloid sepakbola terbaru selalu ditunggu-tunggu di rumah setiap pekan. Maklum, saya dan dua saudara saya terkena efek pesta olahraga sejagad yang digelar di negara yang identik dengan Menara Eiffel. Jika sebelumnya kurang menanggapi serius cabang olahraga internasional ini, semenjak event itu kami menjadi bagian dari manusia gila bola.

Melalui tabloid tersebut, kami mengikuti perkembangan "nasib" klub-klub liga di Eropa, mulai dari Lega Calcio hingga EPL. Saya akui, saat itu saya adalah Laziale, atau fans SS Lazio, secara otomatis saya lebih fokus pada berita-berita dari Serie A. Justru kakak saya, Swante Adi Krisna, sedari awal menjadi fans Arsenal FC. Tentunya ia pernah menjadi satu dari ribuan fans Arsenal di seluruh dunia yang kecewa ketika Tim Gudang Peluru tumbang oleh Raksasa Turki, Galatasaray, pada final Piala UEFA tahun 2000.

Belum ada akses telekomunikasi yang memadai, berkirim surat saat itu menjadi alat utama berkirim pesan. Kebetulan, dalam tabloid tersebut kerap dicantumkan informasi klub-klub Eropa, termasuk alamat klubnya. Melalui info tersebut, kami berinisiatif menulis surat kepada pemain-pemain top Eropa. Dipandu oleh ibu, atau mungkin lebih tepat dibuatkan, surat ditulis dengan bahasa Inggris tentunya.

Saya mengirimkan surat ke salah satu gelandang The Three Lions yang sekaligus menjadi punggawa rival sekota Arsenal, yakni Darren Anderton. Adik saya, Tatas BM, mengirimkan dua surat sekaligus ke dua gelandang elegan yang menjadi ikon dari klubnya masing-masing, yakni David Beckham (Manchester United) dan Francesco Totti (AS Roma). Sedangkan, kakak saya, Swante AK, mengirimkan surat ke Stadion Highbury, dengan tujuan pemain timnas Belanda yang takut naik pesawat, siapa lagi kalau bukan Dennis Bergkamp. Melalui ayah saya, surat dikirimkan ke Stadion White Hart Lane, Old Trafford, Olimpico, dan Highbury.

Kesabaran menjadi harga mati untuk menunggu surat sampai ke tangan pemain yang bersangkutan, apalagi menerima surat balasan. Hari berganti hari, pekan berganti pekan, suatu ketika surat balasan tiba, ternyata justru dari pihak Arsenal yang mengirimkan surat balasan. Kakak saya menerima surat balasan (sudah hilang) satu paket bersama katalog merchandise resmi musim 1999/2000 dan sebuah memorabilia lukisan sketsa tiga sosok berkebangsaan Perancis di Arsenal beserta tanda tangannya.

Mereka adalah Arsene Wenger, Sang Profesor, Patrick Vieira, kapten yang tegas dan lugas, serta Remi Garde, pemain serba bisa yang didatangkan hampir bersamaan dengan Vieira. Aroma Perancis semakin terasa ketika di kertas tersebut terdapat dua tulisan Perancis, "Allez Les Rouges!" dan "Meilleurs Souhaits". Kata yang pertama kurang lebih berarti memberi semangat, kata yang kedua berarti "Semoga Sukses". Untung saja, kertas tersebut sejak awal sudah di-press sehingga tidak sobek atau rusak.

Three Frenchmen

Patrick Vieira, salah satu figur sentral terciptanya Invincible pada musim 2003/2004 di EPL.

Remi Garde, menjadi pemain serba bisa mengantarkannya ke gerbang timnas Perancis.

Arsene Wenger, pelatih yang seolah terlahir untuk menangani The Gunners jika dilihat dari namanya dan lama melatihnya.

Diambil melalui game Championship Manager 97/98, kira-kira seperti inilah daftar pemain Arsenal ketika musim 1997/1998. Satu tahun bergabung, Patrick Vieira dan Remi Garde menjadi penghuni lapangan tengah Arsenal.

Setahun kemudian, menjelang musim kompetisi 2000/2001, ternyata Arsenal masih mengirimkan lagi katalog merchandise resmi dengan kover Thierry Henry. Masih ada satu hal yang belum saya sebutkan. Berbeda dengan surat kepada Bergkamp, tidak jelas ketiga surat yang kami kirimkan ke Beckham, Totti, dan Anderton. Tetapi, bukan berarti momen ini yang merubah saya dari Laziale menjadi fans The Gunners. Justru seorang pemain flamboyan nan eksplosif dalam game Winning Eleven yang dulunya memaksa saya kerap memakai tim Arsenal dan berangsur-angsur menjadi pendukungnya. Dialah King Henry. :D
Read More …

Walaupun tarkam, tapi juga disaksikan banyak penonton
Beberapa waktu yang lalu, ada seorang tokoh nasional yang menyebut kata tarkam untuk mengasosiasikan kompetisi tertentu. Seolah-olah tarkam merupakan titik nadir dari dunia persepakbolaan nasional. Inilah beberapa poin dari tarkam yang saya tahu.

1. Sepakbola tarkam (antar kampung) mempertemukan dua tim yang berasal dari dua desa.

2. Para pemain akan bermain "all out" untuk memberikan kemenangan untuk kampung mereka. Harga diri kampung dipertaruhkan, bak tim nasional skala kecil.

3. Walaupun tarkam, semua pemain menggunakan kostumnya masing-masing, bukan baju bebas.

4. Faktor uang tidak menjadi tujuan utama.

5. Walaupu tarkam, tapi tetap ada wasit. Bukankah cukup "profesional"?

6. Ada lima tipe penonton, dua tipe awal yakni suporter salah satu tim yang biasanya berasal dari daerah bersangkutan. Ketiga adalah Warga sekitar yang sekedar mencari hiburan. Keempat, terkadang ada pemain dari daerah lain yang datang ke lapangan untuk mengamati permainan salah satu tim yang akan menjadi calon lawan. Kelima, anak-anak yang bermain bola di sepetak lahan di luar lapangan yang digunakan untuk bertanding. Tarkam seolah menjadi ruang berkumpulnya masyarakat.

7. Saya pernah menemui seorang anak belasan tahun, dimasukkan di akhir-akhir pertandingan. Padahal, hampir sebagian besar pemain adalah para remaja dan dewasa. Tarkam bisa menjadi ajang penggemblengan bagi para pemain-pemain muda yang tidak ikut SSB.

Jadi, dengan ucapan yang cenderung "menyepelekan" tarkam, bagaimana cara mereka peduli terhadap sepakbola akar rumput? Padahal, sepakbola seperti sudah membudaya di setiap sendi-sendi rakyat Indonesia. Jika perlu, pemerintah mampu mengadakan kompetisi untuk mereka,  sekaligus jadi ajang untuk pencarian pemain. CMIIW.


Lebih lanjut mengenai berita sepakbola usia dini. Cek ini..



Cek di sini..
Read More …


Masih ingat posting ketika Indonesia U-16 bertanding melawan Timor Leste U-16 di Stadion Manahan? Indonesia menang setelah gol semata wayang yang diciptakan oleh Nugroho pada pertandingan yang digelar pada 21 September 2010 lalu.


Saya baru ingat, waktu itu saya bertemu dengan dua sosok di tribun utara yang sampai saat ini masih membekas di pikiran. Tribun utara dikenal sebagai tribun khusus fans fanatik Persis Solo, atau Pasoepati.

Saat itu, seperti biasa, saya memulai pembicaraan dengan para penonton yang ada di sana. Topik pembicaraan hampir selalu sama, yakni mengenai jalannya pertandingan. Pertama adalah seorang anak kecil yang pada foto di bawah ini sedang berteduh dari gerimis yang mengguyur Stadion Manahan, salah satu dari dua anak tersebut.

Salah satu dari dua bocah ini.

Setelah itu, saya iseng menanyai bocah tersebut, apakah ia ingin menjadi pemain bola seperti para punggawa timnas yang saat itu sedang bermain. Ia mengakui bahwa menjadi pesepakbola adalah salah satu dari tujuan hidupnya, namun sepatu bola menjadi kendalanya. Jadi teringat kisah masa lalu jangkar timnas senior yang bermain di Arema Malang, siapa lagi kalau bukan Ahmad Bustomi. Bagaimana sepatu bola Bustomi kecil, didapat dengan susah payah ketika ibunya menjual emas satu-satunya. Tanpa sepatu itu, belum tentu sekarang Bustomi menjadi punggawa Arema, apalagi timnas. Dari kasus itu, saya membayangkan, mungkin ada ribuan bocah-bocah lain yang mengalami problem yang sama, yakni sepatu bola.


Di tribun utara.
Nah, untuk yang kedua, saya bertemu seorang pemuda yang tergolong kalem, terutama jika dibandingkan para penonton lain yang berteriak-teriak mendukung timnas. Sempat berbicara mengenai jalannya pertandingan, beberapa saat kemudian saya mengetahui bahwa ia adalah seorang atlet sepakbola. Namanya Ardy, saat itu, ia mengaku tercatat sebagai pemain di sebuah klub di Jakarta. Seketika ia mengambil handphone-nya dan membuka file foto kesebelasannya. Walaupun pixel-nya cukup kecil dan kurang begitu jelas, namun itu cukup meyakinkan saya. Pemain asal Palur itu memiliki cita-cita menjadi bagian dari Laskar Sambernyawa, walaupun belum kesampaian. Bahkan, alasan utama kepulangannya ke Solo yakni untuk mengikuti seleksi Persis Solo.

Beberapa pekan kemudian, ketika membeli salah satu koran lokal Solo, saya mendapati profil pemain bersangkutan di bagian olahraga. Seperti biasa, di bagian olahraga, terdapat satu halaman yang berisi berita-berita khusus sepakbola nasional dan dari Solo. Hebat, ternyata cita-citanya terwujud, ia sukses menjadi pemain Persis. Walaupun masih belum menghuni tim utama, tapi setidaknya satu langkah dari mimpinya telah terwujud.

Diambil dari Koran Solopos, ditulis oleh Imam Yuda Saputra, foto oleh Alfian Maulana Latief.

Pernah diberitahu nomor handphone-nya, untuk sekedar mengucapkan selamat, ketika saya cek kembali di daftar kontak ternyata tidak ada. Sekarang salah satu cita-cita menjadi pemain Persis Solo sudah terwujud, semoga saja ia tetap termotivasi untuk raihan yang lebih tinggi. Kisah yang mengingatkan saya pada salah satu pesan pada film animasi sepakbola asal Negeri Sakura, Whistle!, pada episode 7.

"If you can dream, you can do it!"
Read More …