Abstractive Sense


LPM Kentingan UNS mengadakan kunjungan ke Griya Solopos pada Sabtu, 4 Desember 2010 . Menurut Syamroatun Fuadiyah, Pemred LPM Kentingan, kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari proses jurnalistik harian Solopos, terutama untuk anggota baru.

Sekitar pukul 08.45 WIB, para peserta kunjungan sudah berkumpul di Sekretariat LPM Kentingan yang terletak di Grha UKM UNS. Menggunakan sepeda motor, rombongan langsung berangkat menuju Griya Solopos. Kantor media massa daerah ini terletak di Jalan Adi Sucipto 190, Solo.

Sesampainya di Griya Solopos, seluruh peserta diterima di Ruang Rapat untuk mengikuti presentasi dari Intan Nur Laili dan Is Ariyanto, keduanya dari Bagian Promosi Solopos. Pada bagian akhir presentasi, dibuka sesi tanya jawab melibatkan kurang lebih tujuh penanya.

Mendengarkan penjelasan di Ruang Rapat

Koran Solopos sendiri telah beredar di Surakarta selama 13 tahun. Solopos belum pernah menekan harga untuk bersaing, hanya saja, secara periodik Solopos memodifikasi dari konten, suplemen, dan layout. Selain produk cetak, Solopos juga menghidupkan media radio dan online. Solopos FM dapat diakses pada frekuensi 103 FM, sedangkan untuk media online beralamat di www.solopos.com. Pada radio sudah ada reporter sendiri, namun, pada bagian online (dotcom) masih mengandalkan kiriman berita dari wartawan cetak. Untuk rencana ke depan Solopos, akan memiliki wartawan sendiri untuk bagian dotcom.

Sebagai koran yang mempekerjakan banyak wartawan yang tersebar, Solopos tidak jarang mendapatkan komplain dari narasumber. Dalam artian bukan beritanya yang salah, namun murni  narasumber yang keberatan. Dari menolak disebutkan namanya, merasa tidak diwawancarai, hingga komplain narasumber yang berujung kekerasan.

Semisal kasus Triyono, wartawan Solopos yang babak belur setelah memberitakan fakta persidangan salah satu kasus korupsi. “Waktu itu dibutuhkan sekitar empat minggu lebih untuk membuat ia (Triyono) mengaku kejadian sebenarnya seperti apa”, ujar Intan Nur Laili.

Selain Solopos, PT Aksara Solopos mengeluarkan produk terbitan baru dengan nama Koran “O”. Masih menurut Intan, koran yang lebih simpel dan murah ditujukan untuk kalangan menengah ke bawah. “Koran ‘O’ diterbitkan justru merupakan hasil evaluasi kita, 13 tahun ini kita belum menyentuh kalangan menengah ke bawah”, ujar Intan. Berita dari Koran 'O' kebanyakan masih berasal dari wartawan Solopos, tetapi pengelolaannya berbeda, termasuk redakturnya.

Kunjungan dilanjutkan penjelasan mengenai proses redaksional di ruang reporter dan redaktur. Karena akhir pekan, tidak ada satupun redaktur dan wartawan di dapur redaksi. Ruang yang berisi banyak komputer ini juga digunakan untuk proses layouting. Selanjutnya, para peserta kunjungan diajak untuk meninjau proses percetakan. Kunjungan diakhiri sekitar pukul 11.30 WIB setelah sesi foto bersama.

Foto-foto
Deretan komputer di dapur redaksi

Penjelasan singkat mengenai proses percetakan
Suasana sebelum foto bersama

Saat pulang

Categories: , , , ,

One Response so far.

  1. semoga berita dari solopos lebih berimbang

Leave a Reply