Abstractive Sense


“Ada yang menginterpretasikan bahwa wayang berasal dari India, meskipun apabila kita menunjukkan wayang kepada orang-orang India, mereka tidak tahu apa-apa”, 

Seperti itulah komentar Dr. Suyanto, S.Kar, MA dalam “Diskusi Wayang, Islam, dan Jawa” di Balai Soedjatmoko, Solo, pada Sabtu, 27 November 2010. Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Jlitheng Suparman, dalang Wayang Kampung Sebelah, wayang sebenarnya merupakan alat yang digunakan Wali Songo, untuk memasukkan pengaruh Islam di Nusantara.
 

Kiri ke kanan, Dr. Suyanto, S.Kar, MA, Jlitheng Suparman, dan Abdullah Faishol

Cikal bakal wayang berasal dari wayang beber, yang gambarnya mirip manusia serta lakonnya bersumber dari sejarah sekitar zaman Majapahit. Saat itu Kerajaan Demak, sebagai kerajaan Islam, memiliki aturan bahwa wayang dilarang dipertunjukkan dengan gambar mirip manusia.

Oleh karena itu, Wali Songo berinisiatif untuk mengubah gambar wayang menjadi gambar karakteristik. “Apa ada manusia yang hidungnya sangat panjang dan tangannya hampir mencapai kaki?”, lanjut pengajar ISI Surakarta tersebut.

Wayang dianggap sukses sebagai media dakwah Islam di Indonesia karena wayang menggunakan berbagai aspek pendekatan, baik dari psikologi, sejarah, paedagogi, hingga politik. “Dulu, wayang dipertunjukkan di masjid, masyarakat bebas untuk menyaksikan, namun, dengan syarat, mereka harus berwudlu dan mengucap syahadat dulu sebelum masuk masjid”, ujarnya mencontohkan.

Abdullah Faishol, seorang pengajar dari STAIN Surakarta, sebagai pembicara lain, menimpali bahwa Islam memiliki sifat universalitas sekaligus lokalitas, dalam konteks ini budaya Jawa, khususnya wayang. Terdapat tiga pandangan Islam mengenai budaya, menerima jika tidak bertentangan, merekonstruksi jika sebagian bertentangan, serta menolak jika jelas-jelas bertentangan. Sunan Kalijaga disebut-sebut sebagai Wali yang paling berperan dalam akulturasi wayang Islam-Jawa.

Di penghujung diskusi, setelah sesi tanya jawab pertama, pada sesi kedua moderator mengajak peserta diskusi untuk mencari solusi permasalahan budaya di Wonogiri. Wacana penghapusan ritual Jamasan dari agenda Pemkab Wonogiri dianggap sebagai isu yang sensitif dan perlu dicarikan solusinya.

Categories: ,

Leave a Reply