Abstractive Sense


Menurut seminar yang pernah diselanggarakan di Unika Atma Jaya di kota Jakarta dan bertajuk Konseling Anak-Remaja Kecanduan Games dan Internet, game memiliki segudang dampak negatif. Beberapa dari dampak tersebut adalah:

1. Kehilangan empati dan belas kasihan akibat permainan game atau tontonan yang penuh kekerasan. Para pecandu game kekerasan biasanya mengalami perubahan kepribadian atau karakter secara signifikan menuju negatif. Mereka tidak jarang menggunakan kekerasan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan untuk hal-hal sepele. Bahkan beberapa dari mereka melakukan kekerasan tanpa belas kasihan. Itulah sedikit celah menuju tindakan kriminal remaja yang marak di beberapa negara-negara. Contoh yang jelas antara lain penembakan brutal oleh seorang mahasiswa di salah satu universitas di Amerika Serikat beberapa tahun lalu.

.....
2. Terganggunya kesehatan, baik pada mata, saraf otak, dan sebagainya. Mudah dimaklumi bahwa game merusak kesehatan karena kebiasaan dalam bermain game. Para gamer biasa meluangkan waktunya berjam-jam bahkan sampai setengah seharian untuk memelototi monitor game. Monitor game dengan gelombang radiasinya, walau kadang sudah dipasang screen filter, tetap saja dapat merusak mata. Apalagi game-game seperti game aksi, sepakbola dan balapan yang menuntut gamer memelototi monitor tanpa henti. Oleh karena itu, beberapa para pemakai kacamata usia remaja adalah gamer. Tetapi anehnya, pernah ada penelitian yang menyebutkan bahwa game ber-adrenalin tinggi malah melatih syaraf mata dan mencegah kebutaan. Entah mana yang benar, tetapi selain mata, saraf otak dan bagian tubuh lain dapat bermasalah. Bermain game berlama-lama juga menguras tenaga dan menimbulkan beberapa keluhan, seperti letih pada leher dan gangguan struktur tulang.

3. Berkurangnya interaksi sosial dengan lingkungan. Para gamer biasanya telah terbiasa dengan kehidupan game yang telah terkontrol kehidupan sosialnya. Pembicaraan pada game yang dapat ditanggapi secara asal-asalan lama-kelamaan menjadikan gamer malas berbicara. Pada akhirnya gamer akan menjauh dari kehidupan sosial atau antisocial.

4. Meniru kata-kata kasar, kotor dan sebagainya. Kata-kata tersebut biasanya disensor di penyiaran televise di Indonesia. Tetapi, di game, apakah sempat dan mau para pengembang melakukan sensor pada bagian dari game tersebut. Padahal, beberapa kata-kata kasar itu adalah bagian dari plot dan perasaan dari game tersebut.

5. Kehilangan konsentrasi dalam belajar dan fokus terhadap segala sesuatu yang bersifat teks. Game sering berandil besar pada prestasi belajar di sekolah. Segala hal-hal menyenangkan pada game dan sebaliknya akan mengisi sebagian dari memori otak gamer. Mereka sering berpikir tentang game saat belajar dan membuyarkan konsentrasi belajarnya. Game juga dapat merusak fokus pada segala sesuatu bersifat teks, mengingat keberadaan teks atau hafalan sangat sering ditemui.


Daftar Pustaka

Rahayu, Utami Sri. 2007. “Panduan Aman Main PS”. Dalam Nakita. 5 Mei 2007. Jakarta.

Leave a Reply