Abstractive Sense

Pemikiran Aristoteles berdasarkan penyelidikan terhadap pemerintah saat itu, mulai dari Kreta, Kartago, Sparto, dan Athena. Pemikirannya juga dipengaruhi beberapa tulisan ilmuwan saat itu, Phalaes, Hippodamus, dan gurunya, Plato.

....

Filsafat Aristoteles bersifat naturalistis karena sifat empirisnya. Walaupun sama-sama seorang idealis, ia lebih memusatkan diri daripada Plato. Pengertian naturalistis selanjutnya adalah ia percaya bahwa alam semesta terdiri dari sebuah hierarki pengada-pengada masing-masing dengan sebuah kodrat atau hakikat. Pandangan naturalistisnya mengenai alam semesta tidak tergantung pada kepercayaan-kepercayaan teologis.

Aristoteles memakai pendekatan biologis untuk menganalisa manusia. Menurutnya, manusia adalah seekor binatang dengan unsur tertentu dan khas, khususnya rasio dan tuturan. Tidak seperti binatang pada umumnya yang diatur oleh kebiasaan, manusia dapat dengan sadar mengendalikan dorongan-dorongan non-rasionalnya. Memiliki nafsu yang bermacam-macam, salah satu nafsu dari manusia adalah bersosialisasi, baik berupa sekedar bersahabat atau urusan seksual.

Namun, permasalahannya, pengejaran nafsu tersebut, yang juga dapat diartikan kenikmatan, kebanggan, prestasi, tujuan, atau kekuasaan, sering tidak terkontrol, dapat dikarenakan faktor keserakahan manusia juga. Menurut Aristoteles, pada awalnya manusia selalu baik, namun dikarenakan faktor-faktor lingkungan dan nafsu tadi dapat menyebabkan berubah jahat.
Piolis, adalah istilah Aristoteles untuk mengartikan komunitas sipil yang ia yakini sebagai latar sosial kodrati dari manusia. Aristoteles juga membuat istilah untuk kelompok sosial, bernama koininia, yang meliputi segala macam komunitas di mana pada taraf tertentu terjadi interaksi. Oikos, atau rumah tangga adalah jenis komunitas paling dasar dan terbatas untuk perkembangan kodrat manusia. Karena kebutuhan, perkembangan sosial secara alami menuju sebuah desa dan selanjutnya polis. Selain mengatasi serangan dari luar, polis juga dibentuk untuk kesejahteraan bersama. Menurutnya juga, polis yang ideal adalah sebuah komunitas orang-orang yang sama kedudukannya, yang mengarah pada kebaikan yang sebaik mungkin.
Sebagai murid dari Plato, walaupun Aristoteles banyak terpengaruh olehnya, namun tidak semua ajarannya diterima mentah-mentah. Ajarannya dikupas secara praktis, seperti ada kekuatan kompleks mempengaruhi kehidupan , ia mengajarkan bahwa pembawaan manusia mengarahkan manusia untuk berkehidupan politik dan bernegara, adanya lambang kodrat yang perlu pengembangan dan daya pemenuhan kebutuhan serta kehendak kodrat manusia. Pengupasan juga dilakukan secara logis dan sistematis berdasarkan metode induksi atas penyelidikan ilmiah dan perbandingan sistem yang ada. Aristoteles mengklasifikasikan sistem-sistem politik, seperti di bawah ini:

a. Monarki (kerajaan), diperintah oleh seorang raja untuk kepentingan semua, tapi jika sebaliknya dapat berpotensi tirani.
b. Aristokrasi, diperintah beberapa orang untuk kepentingan bersama, jika sebaliknya dapat berpotensi oligarki, memperkaya sekelompok orang saja.
c. Polity, diperintah semua rakyat untuk kesejahteraan umum, jika sebaliknya, mayoritas rakyat memerintah untuk kepentingan si miskin saja dapat menjadi demokrasi.
Sedangkan, menurut Aristoteles, sistem politik terjelek adalah tirani dan demokrasi yang over. Baginya, tidak ada sistem politik terbaik, maka diperlukan adanya konstitusi. Selain berpikiran pentingnya suatu keadilan dalam suatu negara, Aristoteles juga berpikir bahwa hukum yang dapat dipaksakan diperlukan untuk memupuk persahabatan. Negara terbaik bagi Aristoteles adalah negara di mana tiap warganya sejauh mungkin turut serta dalam kehidupan politik atau negara.

Daftar Pustaka

Tom Campbell. 1994. Tujuh Teori Sosial. Yogyakarta: Kanisius.
Budiardjo, Miriam. 1982. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.
Rahyono. 1998. Teori Sosial dan Politik. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Salim, Agus. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Stanford Encyclopedia of Philosophy. (2002). “Aristotle's Political Theory”. From http://plato.stanford.edu/entries/aristotle-politics/. Diakses pada tanggal 12 April 2009, pukul 01:20.

Leave a Reply