Abstractive Sense


Kisah ini sebenarnya isi khotbah yang entah kebetulan saya dengarkan dan resapi untuk kemudian saya tulis di blog ini. Sholat Tarawih (di bulan Ramadhan tentunya) di sebuah masjid di Karanganyar, pada hari Minggu, 13 September 2009. Ada suatu cerita tentang seorang pemuda yang patut ditiru para pemuda zaman sekarang.

Di daerah Gaza, seorang pemuda yang bernama Idris menemukan sebuah apel mengambang di sungai. Karena tertarik, ia mengambilnya dan memakan sebagian. Seketika ia teringat bahwa apel itu bukan haknya dan hal ini bisa menjadikan ibadahnya tidak diterima. Lantas, ia berpikiran untuk segera mencari tahu pemiliknya untuk mengikhlaskan apel yang telah ia makan, walaupun hanya sebagian.
....

Ia berjalan menyusuri sungai dari hilir menuju hulu mencari pohon apel yang kemungkinan menjadi asal dari apel tadi. Setelah lama mencari, Idris sampai di sebuah rumah dengan pekarangan yang luas. Idris merasa yakin telah menemukan apa yang ia cari ketika melihat di sekitar situ terdapat pohon apel yang mengarah ke sungai.

Tanpa berlama-lama, Idris mengetuk pintu dan mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Setelah salamnya dibalas bapak penghuni rumah, Idris dipersilakkan masuk. Ditanya maksud kedatangannya oleh bapak itu, Idris menceritakan bahwa ia telah memakan apel yang diperkirakan milik bapak itu. Karena merasa itu bukan haknya, maka ia takut jika ibadahnya tidak diterima, dan memohon kepada bapak itu untuk mengikhlaskan apel tadi.

Mendengar permohonan itu, bapak itu kaget dan langsung bersimpati dengan Idris. Dianggap pemuda yang baik budi, bapak itu memberi syarat yang harus dipenuhi Idris, yaitu menikahi putrinya. Pemuda itu tidak percaya apa yang didengarnya dan langsung menerimanya. Namun, menurut bapak itu, putrinya buta, bisu, tuli, dan lumpuh. Hal ini sempat membuat Idris bimbang, namun dikarenakan syarat, maka ia wajib menerimanya.

Bapak itu lantas menyuruh Idris menengok calon istrinya di kamar, namun Idris tidak menemukan wanita dengan ciri yang disebut tadi. Ia kembali ke ruang bapak itu, dan disuruh mencari lagi di kamar. Berkali-kali mencari, Idris tidak menemukan calon istrinya, bapak itu menunjukkannya.

Ternyata, calon istri Idris adalah wanita yang sangat cantik dan sholehah. Wanita itu buta dari melihat hal-hal maksiat, bisu dari berkata kotor dan hanya berkata yang benar, tuli dari mendengar gunjingan, dan lumpuh untuk berjalan ke tempat-tempat maksiat. Singkat cerita, Idris sangat bahagia dengan istrinya dan keluarganya.

Idris memiliki keturunan yang sangat berpengaruh di dunia. Putra dari Idris itu merupakan tokoh Islam yang besar. Tidak lain, nama putra Idris itu Imam Syafi'i atau Muhammad bin Idris Asy-syafi'i.

Pelajaran yang diambil dari cerita di atas yaitu makananlah hanya yang halal, termasuk cara mendapatkannya. Makanan yang dimakan, entah halal atau haram, dapat berpengaruh pada generasi penerus. Pemuda zaman sekarang perlu meniru kejujuran Idris agar Indonesia menjadi negara yang bersih. Jika semua pejabat seperti Idris, maka tugas KPK tidak begitu berat, atau malahan tidak perlu adanya, dan negara menjadi makmur. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply