Abstractive Sense



Putaran pertama Indonesian Super League (ISL) hampir berakhir pada November. Pertarungan 18 kesebelasan yang berasal dari berbagai wilayah di NKRI tersebut telah berhasil menyita animo masyarakat untuk terus menyaksikan. Stadiun dipenuhi fans fanatik dan siaran live pada televisi mendapat rating cukup tinggi adalah sedikit bukti akan perhatian masyarakat akan perkembangan persepakbolaan Indonesia.

Apalagi, pada awalnya ISL dijanjikan menjadi titik awal perubahan menuju kompetisi yang sesuai standar liga-liga profesional. Beragam aturan baru dan spektakuler dirumuskan untuk merubah format kompetisi. Klub dipaksa untuk memenuhi syarat infrastruktur yang selama ini selalu menjadi kendala. Stadion yang belum memenuhi syarat diharuskan untuk dirombak. Bahkan, klub sebesar Persija Jakarta harus mati-matian memperjungkan wacana untuk sementara memakai SUGBK (Stadion Utama Gelora Bung Karno) ketika stadionnya dinyatakan tidak layak.

Pada gengsi dan tensi yang baru, tentunya setiap klub tidak ingin hanya menjadi penggembira belaka. Pemain-pemain hebat, baik berasal dari dalam negeri maupun mancanegara, berlomba-lomba didatangkan untuk dapat bersaing di ISL. Tanpa standar gaji yang jelas, klub tidak ragu menggaji tinggi pemainnya. Bahkan, gaji pemain lokal dibandingkan pemain asing tidak berbeda jauh. Gaji Rp 1 Milyar untuk seorang pemain adalah hal yang wajar, meskipun kontribusi sang pemain belum tentu sesuai dengan nominal gajinya.

Minimnya finansial beberapa klub diperparah dengan kecilnya hadiah kemenangan tiap partai. Oleh karena itu, bukan hal yang aneh, ketika tersiar kabar beberapa klub besar berada dalam krisis finansial. Kabar mengejutkan yang mencuat akhir-akhir ini adalah keiginan Persik Kediri untuk mundur dari Copa Indonesia, suatu turnamen yang diikuti klub-klub dari ISL, Divisi Utama, dan Divisi I.

Walaupun Joko Driyono, Direktur Kompetisi BLI, menyebutkan bahwa Persik mencabut niatnya, tetapi bukan tidak mungkin pada akhirnya Persik bakal mundur. Padahal Persik adalah salah satu klub besar yang sarat reputasi. Kemungkinan lebih parah lagi ketika klub-klub lain mengikuti jejak Persik Satu masalah lagi yang tidak kalah heboh adalah kerusuhan yang mewarnai beberapa partai di ISL.

Perubahan citra sepakbola kita yang dicanangkan sebelumnya sepertinya semakin sulit terealisasi. Persepakbolaan kita seolah-olah identik dengan kerusuhan. Bahkan, akhir-akhir ini bukan hanya antar pemain atau antara pemain dan wasit, tetapi manajer dan penonton ikut ambil bagian.

Seolah-olah tidak ada norma-norma ketimuran yang identik dengan sopan santun dan menghargai orang lain. Padahal, setiap partai ISL tidak sedikit anak-anak yang ikut menonton. Mau dibawa ke mana moral generasi muda kita jika dalam hiburan diselipi kekerasan?

Sanksi tegas terhadap klub dan individu tidak serta merta menjadi solusi. Untuk menyelesaikan masalah-masalah persepakbolaan kita yang cukup kompleks seharusnya bukan hanya tugas BLI dan PSSI, tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia.

Fanatik bisa, tetapi kenapa fairplay tidak?


(Dari berbagai sumber, ditulis saat penerimaan sebagai anggota LPM Kentingan, pada 24 Oktober 2008)
Read More …




Gambar gag jelas ini berasal dari ketidaksengajaan.

....


Pada awalnya membuat gambar abstrak pake 3d's max (gambar bawah) dan diedit pake mirror serta penambahan sinar sorot mata di acdsee . Jadinya seperti ini, gag tahu makhluk apa ini.

Read More …

bola, stadion, uns, tribun
Hampir dipastikan seluruh civitas akademika Universitas Sebelas Maret pasti tahu akan keberadaan stadion UNS ini.
....


Stadion yang cukup luas dengan dua tribun. Tribun barat sudah memiliki atap yang pastinya menambah kenyamanan para penonton. Pada tribun ini, terik matahari dan derasnya hujan bukan lagi menjadi halangan bagi para penonton untuk menyaksikan sepakbola. Namun, sangat disayangkan ketika tribun timur masih berupa tempat duduk yang sama sekali tidak rimbun. Suatu hal yang dapat dipastikan ialah para penonton akan jauh lebih memilih untuk duduk di tribun barat daripada tribun timur. Di balik semua itu, ada sebuah viewpoint atau tempat menyaksikan yang menawarkan sensasi berbeda daripada ke-2 tribun tadi. Para penghuni Graha UKM kemungkinan besar pernah sekedar berhenti sejenak pada tempat ini. Tetapi, bagi para mahasiswa yang belum pernah sekalipun mengunjungi Graha UKM mungkin akan mengernyitkan dahi akan keberadaan tempat ini

Tempat ini terletak pada balkon paling atas bagian tenggara dari Graha UKM, balkon lantai tiga. Balkon lantai tiga dapat dicapai dengan menaiki tangga ke lantai ketiga dan dilanjutkan berjalan lurus ke pojok tenggara, melewati toilet. Pemandangan pepohonan sekitar Graha UKM, jalan belakang UNS, maupun stadion terlihat cukup jelas. Pada posisi ini kita bisa menyaksikan selayaknya berada pada tribun atas stadion-stadion ternama. Walaupun tempat yang strategis, namun pada posisi ini cukup menakutkan dan beresiko, apalagi bagi yang takut ketinggian. Ketidakberadaan kursi membuat kita harus berdiri di balkon dan beberapa orang kadang duduk di pinggiran balkon yang cukup berbahaya. Tetapi di balik kedua sisi tersebut, menonton pada tempat ini tetaplah asyik dan sudah sewajarnya kita berhati-hati. Belum lagi, seupama stadion UNS di masa yang akan datang lebih maju dan digunakan untuk menggelar even-even sepakbola tingkat nasional, maka tempat ini dapat menjadi pilihan
Read More …